Akuisisi RTS oleh Qiddiya Tuai Pro dan Kontra di Komunitas FGC

Akuisisi RTS oleh Qiddiya Tuai Pro dan Kontra di Komunitas FGC

Esports
17 September 2025
192 views

Akuisisi penuh RTS, penyelenggara turnamen Evo, oleh Qiddiya dari Arab Saudi menjadi berita besar di komunitas Fighting Games. Evo sendiri dikenal sebagai salah satu turnamen paling bergengsi bagi komunitas Fighting Game Community (FGC). Banyak orang melihat langkah ini sebagai peluang besar karena dukungan dana yang kuat bisa membuat Evo semakin berkembang.

Beberapa kalangan optimistis bahwa kehadiran Qiddiya akan membawa banyak manfaat. Dengan sumber daya yang lebih besar, prize pool bisa meningkat, fasilitas penyelenggaraan lebih baik, dan turnamen semakin dikenal secara global.

Dukungan ini juga diyakini bisa membuat Evo lebih profesional dan stabil dalam jangka panjang. Sebagian pro player mendukung Evo meski kepemilikannya berubah, dengan harapan kepemilikan yagn baru dan kapital yang besar dapat menghadirkan skema kompetiis Esports yang lebih mapan dan berkualitas.

Komunitas Suarakan Kritik dan Kekhawatiran

Namun, tidak semua orang menyambut positif kabar ini. Sejumlah pro player, konten kreator, dan anggota komunitas merasa akuisisi ini menimbulkan banyak tanda tanya. Salah satu kritik yang paling sering muncul adalah soal sportswashing. Arab Saudi kerap dituding menggunakan olahraga dan hiburan untuk memperbaiki citra terkait isu hak asasi manusia, terutama soal kebebasan berekspresi dan hak LGBT.

Meski begitu terdapat beberapa tokoh ayng memiliki anggapan berbeda nenanggapi permasalahan ini. Dominique SonicFox McLean, salah satu pemain paling dikenal di FGC, menyatakan akan terus hadir di Evo. Menurutnya, justru di sinilah penting untuk tetap bersuara lantang mengenai isu-isu inklusivitas, terutama terkait komunitas LGBTQ+. Mereka melihat bahwa meski kepemilikan berpindah, suara komunitas tetap bisa disuarakan.

Selain itu, ada juga kekhawatiran bahwa budaya komunitas FGC yang selama ini dikenal akrab, inklusif, dan berakar pada semangat grassroots bisa hilang. Banyak yang khawatir bahwa Evo akan lebih fokus pada profit dan citra besar, sehingga ruang bagi komunitas kecil atau kreator independen semakin menyempit.

Beberapa pemain juga mempertanyakan ketergantungan Evo pada dana investasi besar. Mereka khawatir jika suatu saat prioritas pendanaan berubah, Evo bisa kehilangan dukungan finansial dan kembali terancam. Ada juga keraguan soal independensi.

Dengan keterlibatan Lembaga negara pada hal in, ada kemungkinan keputusan penting terkait penyelenggaraan bisa dipengaruhi oleh kepentingan politik, misalnya soal penyensoran atau pembatasan isu sensitif di acara.

Menjadi Titik Baru Bagi EVO dan FGC

Akuisisi RTS oleh Qiddiya jelas menandai babak baru bagi Evo. Di satu sisi, ada peluang besar bagi Evo untuk tumbuh lebih besar dan lebih profesional. Namun di sisi lain, muncul rasa khawatir bahwa identitas dan nilai-nilai komunitas bisa berubah.

Kini, masa depan Evo berada di persimpangan jalan. Apakah ia akan tetap menjadi simbol komunitas FGC yang inklusif dan berakar dari semangat grassroots, atau justru berubah menjadi brand besar yang lebih jauh dari komunitasnya, masih harus ditunggu. Yang pasti, suara para pemain, kreator, dan komunitas akan sangat menentukan arah Evo ke depan.