Analisis Draft Full Tank Alter Ego di Game 4 Grand Final

Analisis Draft Full Tank Alter Ego di Game 4 Grand Final

Mobile Legends
03 November 2025
233 views

Grand final MPL ID Season 16 antara Alter Ego dan ONIC Esports menghadirkan pertarungan yang menegangkan hingga game keempat. Dalam situasi genting, Alter Ego mencoba sesuatu yang benar-benar di luar dugaan — sebuah strategi yang membuat penonton tercengang dan analis tak berhenti membahasnya. Strategi itu dikenal sebagai Draft Full Tank Alter Ego, yang hingga kini masih menjadi bahan diskusi komunitas MLBB Indonesia.

Keputusan berani ini muncul setelah Alter Ego tertinggal dari ONIC. Dalam upaya mengubah momentum, Xepher dan tim analis AE tampaknya ingin bermain dengan gaya yang lebih sustain dan mengandalkan teamfight panjang. Namun, hasilnya tidak sesuai ekspektasi. Mereka justru tertekan sejak early game dan kesulitan memberikan damage berarti kepada ONIC yang tampil sangat disiplin.

Meski begitu, Draft Full Tank Alter Ego sebenarnya memiliki filosofi dan konsep yang tidak bisa langsung disalahkan. Draft tersebut memprioritaskan daya tahan dan kontrol map daripada damage burst. Tujuannya kemungkinan besar adalah untuk memaksa ONIC bertarung dalam tempo lama dan membuat Kairi cs kesulitan menembus frontline AE yang tebal. Sayangnya, rencana itu gagal total karena kurangnya tekanan di early dan minimnya sumber damage.

Namun, keputusan tersebut tetap menunjukkan keberanian dan kreativitas Xepher sebagai pelatih. Dalam panggung sebesar grand final, tidak banyak tim yang berani keluar dari zona nyaman dan mencoba strategi eksperimental seperti ini. Meski hasilnya pahit, Draft Full Tank Alter Ego tetap menjadi salah satu momen paling menarik di laga puncak MPL ID Season 16.

Draft Full Tank Alter Ego Dipertanyakan, Apa Rencananya?

Draft Full Tank Alter Ego

Pada game keempat grand final melawan ONIC, Alter Ego benar-benar membuat semua orang terkejut. Mereka memutuskan untuk memakai empat hero badan dan hanya satu hero damager — itu pun bukan hero damage murni. Draft mereka terdiri dari Baxia Jungler, Ruby EXP Lane, Uranus Gold Lane, Chou Roamer, dan Yve Mid Lane sebagai satu-satunya sumber damage utama.

Banyak penonton langsung mempertanyakan Draft Full Tank Alter Ego tersebut. Secara teori, komposisi ini tidak memiliki damage cukup untuk menghabisi lawan. Namun jika dilihat lebih dalam, AE tampaknya ingin bermain dengan konsep teamfight total: menciptakan zona aman untuk Yve dan memenangkan pertarungan lewat sustain panjang. Strategi ini berpotensi berhasil jika AE mampu memegang kendali early game dan rotasi map.

Sayangnya, hal itu tidak terjadi. Build Yve dari Hijumee ternyata masih berfokus pada utility, bukan pure damage. Ini membuat potensi burst AE semakin berkurang drastis. ONIC, yang dikenal sebagai tim dengan kemampuan membaca draft luar biasa, langsung menyesuaikan permainan mereka. Mereka menghindari teamfight besar di early dan perlahan memotong rotasi AE hingga kehilangan momentum sepenuhnya.

Meski kalah, tidak sepenuhnya salah bagi AE mencoba Draft Full Tank Alter Ego ini. Secara teori, bila early mereka berhasil, ONIC akan kesulitan menembus pertahanan AE. Empat hero tanky dengan efek crowd control berat seperti Ruby dan Chou bisa saja menjadi tembok yang menyulitkan CW dan Kairi. Tetapi, tanpa damage tambahan, sustain tinggi itu justru berubah menjadi beban ketika teamfight berlangsung terlalu lama.

Dari sisi makro, Alter Ego juga tampak kesulitan menutup map. ONIC memanfaatkan keunggulan wave clear dan farming untuk mempercepat tempo. Sementara AE, yang mengandalkan rotasi bersama, justru tidak bisa membangun objektif dengan cepat. Kondisi ini membuat ONIC bebas menentukan kapan dan di mana mereka mau bertarung.

Namun tetap perlu diakui, keberanian Xepher untuk mengeluarkan Draft Full Tank Alter Ego di laga krusial pantas mendapat apresiasi. Ini menunjukkan bahwa Alter Ego tidak takut untuk mencoba hal baru, bahkan di momen penentuan gelar juara. Walau pada akhirnya strategi tersebut tidak berhasil, mentalitas eksperimental seperti inilah yang membuat tim ini disegani.

Game ini juga menjadi pembelajaran penting bahwa drafting tidak hanya soal hero yang kuat secara individu, tetapi juga keseimbangan fungsi tim. Draft Full Tank Alter Ego gagal karena keseimbangan itu hilang — sustain terlalu tinggi, damage terlalu rendah. Namun dari percobaan inilah pelatih dan pemain bisa memahami batasan serta potensi meta yang bisa dikembangkan di masa depan.

Xepher sendiri setelah laga mengakui bahwa keputusan itu adalah bagian dari strategi berisiko tinggi. Ia ingin mencoba sesuatu yang bisa membuat ONIC keluar dari ritme, meski akhirnya tidak berjalan sesuai rencana. Dalam konteks grand final, keberanian seperti ini layak dihargai — karena terkadang inovasi hanya lahir dari percobaan ekstrem.

Akhirnya, Draft Full Tank Alter Ego akan dikenang sebagai salah satu eksperimen paling berani di sejarah grand final MPL ID. Tidak menghasilkan kemenangan, tetapi membuka mata banyak pihak bahwa meta Mobile Legends masih sangat luas untuk dieksplorasi. Alter Ego mungkin kalah, tapi keberanian mereka mencoba hal baru membuktikan bahwa mereka masih menjadi salah satu tim paling kreatif di Indonesia.

Nantikan informasi-informasi menarik lainnya dan jangan lupa untuk ikuti Facebook dan Instagram Dunia Games ya. Kamu juga bisa dapatkan voucher game untuk Mobile Legends, Free Fire, Call of Duty Mobile dan banyak game lainnya dengan harga menarik hanya di Top-up Dunia Game.