Bloodmasque: Game Aksi Vampir Square Enix yang Terlupakan dari Tahun 2013
Bloodmasque, RPG Vampir Eksperimental dari Square Enix yang Terlupakan
Bayangkan sebuah RPG aksi bergaya gothic yang berlatar di Paris abad ke-19 — tapi bukan Paris yang kita kenal. Kota Cahaya itu kini dikuasai para vampir, sementara manusia berjuang bertahan hidup di bawah bayang-bayang kegelapan. Pemain berperan sebagai pemburu vampir bersenjata pedang tajam dan kekuatan supranatural, melawan musuh berjas aristokrat dengan topi Napoleon dan vampir wanita berpenampilan elegan.
Premis ini terdengar seperti sesuatu yang baru dari Square Enix, tapi faktanya, game semacam itu sudah pernah dirilis lebih dari satu dekade lalu. Namanya adalah Bloodmasque, sebuah RPG aksi eksklusif untuk perangkat Apple yang rilis pada tahun 2013. Sayangnya, game ini nyaris tak dikenal, bahkan oleh penggemar setia Square Enix sendiri.
Aksi Cepat dengan Sentuhan Layar
Bloodmasque mengusung konsep yang cukup unik untuk masanya. Karena dirilis di era awal iPhone dan iPad, sistem kontrolnya sepenuhnya berbasis layar sentuh. Pemain harus menggesek layar untuk menyerang dan menangkis, sementara karakter bergerak otomatis dalam arena pertarungan.
Bagi pemain modern, sistem seperti ini mungkin terasa aneh dan ketinggalan zaman. Namun pada tahun 2013, ide tersebut cukup berani dan futuristik. Elemen aksi cepat serta atmosfer gothic-nya memberikan nuansa sinematik yang kuat — sesuatu yang kemudian bisa kita lihat kembali dalam Final Fantasy 16.
Tangan Kreatif di Balik Bloodmasque
Salah satu fakta menarik yang baru terungkap beberapa tahun kemudian adalah bahwa Kazutoyo Maehiro, kreator yang terlibat dalam Final Fantasy Tactics, Final Fantasy XIV, dan Final Fantasy 16, adalah orang yang menulis naskah Bloodmasque.
Maehiro mengaku bahwa ceritanya dibuat dengan pendekatan yang “gila dan ambisius.” Ia bahkan menciptakan lore sepanjang 3.000 tahun, menggambarkan sejarah dunia vampir dari masa Paris klasik hingga ke peradaban luar angkasa. Konsepnya tidak berhenti di bumi — ia membayangkan evolusi vampir dalam berbagai era, seolah ingin menciptakan mitologi setara dengan Final Fantasy itu sendiri.
Sayangnya, ambisi tersebut tidak mendapat panggung besar. Bloodmasque tidak pernah benar-benar populer, dan hanya bertahan sebentar di App Store sebelum akhirnya dihapus.
Terlalu Maju untuk Masanya
Jika melihat kembali, Bloodmasque terasa seperti proyek eksperimental Square Enix yang terlalu maju untuk tahun 2013. Visualnya memadukan gaya realistis dengan desain karakter khas Jepang, sementara temanya mencoba menggabungkan fantasi gelap Eropa dengan teknologi futuristik.
Dalam beberapa hal, game ini tampak seperti cikal bakal pendekatan baru Square Enix terhadap genre aksi-RPG. Dari sistem pertarungan cepat hingga atmosfer sinematik yang intens, banyak elemen Bloodmasque kini terasa akrab berkat kesuksesan Final Fantasy 16.
Layak Dihidupkan Kembali
Mendengar kembali cerita Maehiro tentang proyek ini membuat Bloodmasque tampak seperti permata tersembunyi dalam sejarah Square Enix. Sebuah game yang gagal bersinar bukan karena kualitasnya, melainkan karena platform dan waktunya kurang tepat.
Bayangkan jika konsepnya dihidupkan ulang dengan teknologi saat ini — Paris gothic yang megah, vampir aristokrat, dan narasi lintas era hingga ke luar angkasa. Bloodmasque bisa saja menjadi RPG aksi bergaya gelap yang menyaingi Elden Ring atau Lies of P.
Bagi para penggemar game dengan atmosfer kelam dan dunia penuh misteri, Bloodmasque pantas dikenang sebagai karya yang melangkah lebih jauh dari zamannya.