Koji Sugimoto Kritik Tren Low-Poly: Nostalgia atau Kemunduran Grafis Game?

Koji Sugimoto Kritik Tren Low-Poly: Nostalgia atau Kemunduran Grafis Game?

Berita
18 August 2025
407 views

Kontroversi Tren Low-Poly: Kritik Koji Sugimoto terhadap Grafis Retro di Game Modern

Evolusi Visual Game dari 90-an hingga Sekarang

Sejak era 90-an, video game telah mengalami evolusi besar. Dari pixel art menuju 3D poligonal, setiap lompatan teknologi grafis terasa revolusioner. Walau saat itu pemain masih harus membayangkan detail yang belum sempurna, perkembangan ini dianggap kemajuan signifikan. Kini, ironisnya, tren justru berbalik: banyak game modern dengan sengaja meniru tampilan low-poly retro.

Fenomena inilah yang menuai kritik keras dari Koji Sugimoto, programmer veteran Square Enix yang terlibat dalam pengembangan Final Fantasy X dan Xenogears.

Kritik Koji Sugimoto terhadap Tren Low-Poly

Sugimoto sudah mengekspresikan ketidaksukaannya sejak 2019. Menurutnya, developer generasi lama bekerja keras menghindari distorsi grafis karena keterbatasan teknologi konsol masa itu, seperti PlayStation pertama. Kini, melihat developer modern justru memproduksinya secara sengaja demi nuansa nostalgia terasa “aneh” baginya.

Bahkan dalam beberapa terjemahan, komentarnya menyebut tren low-poly sebagai sesuatu yang “menjijikkan” atau “layak dibenci”.

Game Engine dan Kemudahan Membuat Grafis Retro

Baru-baru ini, Sugimoto menyoroti fitur baru di sebuah game engine yang mempermudah pembuatan grafis low-poly. Bagi sebagian developer, fitur ini adalah alat untuk menghadirkan game modern bercita rasa retro. Namun, Sugimoto menilai hal itu melupakan sejarah: keterbatasan visual dulu adalah kompromi teknologi, bukan pilihan estetika.

Jika teknologi saat itu memungkinkan kualitas lebih tinggi, para developer pasti akan memilih realisme grafis.

Mengapa Gamer Mencintai Grafis Low-Poly?

Meski menuai kritik, banyak gamer tetap mencintai tampilan low-poly karena beberapa alasan:

  • Nostalgia: Generasi gamer 90-an merasa terhubung dengan dunia kotak-kotak sederhana.

  • Kebebasan Imajinasi: Grafis sederhana memberi ruang bagi pemain untuk menafsirkan dunia game dengan cara mereka sendiri.

  • Keindahan Kesederhanaan: Realisme grafis memang menakjubkan, tapi tidak selalu lebih baik dibanding gaya retro.

Musisi Brian Eno pernah menulis bahwa kegagalan medium bisa menjadi ciri khas yang akhirnya dicintai. Sama seperti distorsi suara atau gambar pecah, grafis low-poly menjadi bagian dari pesona era tertentu.

Seni vs Kemunduran: Dua Sisi Perdebatan

Perdebatan ini memperlihatkan bahwa perkembangan teknologi tidak selalu sejalan dengan selera estetika.

  • Bagi sebagian gamer dan developer indie, low-poly adalah seni.

  • Bagi Sugimoto, low-poly adalah kemunduran, karena mengabaikan perjuangan panjang para pengembang untuk melampaui keterbatasan teknologi.

Kesimpulan

Tren grafis low-poly di game modern adalah fenomena unik: antara nostalgia yang menenangkan dan kontroversi yang memicu perdebatan. Apakah ia bentuk seni yang layak dihargai, atau sekadar langkah mundur dalam sejarah grafis game?

🎮 Bagaimana menurutmu, apakah grafis low-poly masih relevan di era game ultra-realistis saat ini?