Impresi Awal Crimson Desert: Potensi Sempurna dengan Beragam Kekurangan

Impresi Awal Crimson Desert: Potensi Sempurna dengan Beragam Kekurangan

Games
08 April 2026
156 views

Setelah penantian panjang lebih dari enam tahun sejak pertama kali diumumkan, Crimson Desert akhirnya resmi hadir ke publik. Sebagai proyek ambisius dari Pearl Abyss, studio di balik kesuksesan Black Desert Online, game ini datang dengan beban ekspektasi yang tidak main-main.

Banyak yang berharap Crimson Desert mampu menjadi evolusi dari formula open-world yang selama ini mereka kembangkan, sekaligus menawarkan pengalaman RPG yang lebih matang dari sisi cerita maupun gameplay.

Berdasarkan impresi awal setelah sekitar satu jam permainan intens, Crimson Desert langsung memperlihatkan dua sisi yang cukup kontras. Di satu sisi, fondasi yang ditawarkan terasa menjanjikan mulai dari skala dunia yang luas hingga sistem combat yang terlihat solid.

Namun di sisi lain, sejumlah kekurangan juga langsung terasa sejak awal, mulai dari penyajian cerita yang kurang kuat hingga desain gameplay yang belum sepenuhnya nyaman.

Kesan awal ini membuat Crimson Desert terasa seperti proyek besar dengan potensi luar biasa, tetapi masih membutuhkan banyak penyempurnaan untuk benar-benar mencapai level yang diharapkan.

Pembuka yang Dramatis, Namun Minim Emosi

Crimson Desert membuka ceritanya dengan adegan dramatis: Kliff, sang protagonis utama, tewas dalam pertempuran sebelum akhirnya bangkit kembali di sebuah dimensi misterius bernama abyss. Secara konsep, ini adalah premis yang menarik.

Namun, eksekusinya terasa kurang menggugah. Kliff digambarkan sebagai sosok prajurit pendiam, tetapi alih-alih misterius atau karismatik, ia justru terasa datar. Minimnya ekspresi dan dialog membuat karakter ini sulit untuk terhubung secara emosional dengan pemain.

Jika dibandingkan dengan karakter seperti Geralt of Rivia, yang memiliki latar belakang kuat serta kepribadian khas, Kliff masih jauh dari kata menarik di fase awal permainan.

Alur Cerita yang Terasa Terputus-putus

Masalah lain yang langsung terasa adalah cara penyampaian cerita. Dalam satu jam awal, pemain akan dihadapkan pada rangkaian kejadian yang terasa acak mulai dari menjelajahi kota Hernand, masuk ke sewer tanpa alasan jelas, hingga berpindah ke dimensi lain melalui portal.

Struktur naratif seperti ini membuat alur cerita kehilangan fokus. Alih-alih membangun ketertarikan, permainan justru terasa seperti rangkaian quest tanpa benang merah yang kuat.

Quest Repetitif yang Kurang Memberi Kepuasan

Masuk ke aspek gameplay, Crimson Desert menawarkan berbagai aktivitas sampingan seperti memancing, memasak, hingga berburu buronan. Secara teori, ini adalah elemen penting dalam game open-world.

Namun dalam praktiknya, sebagian besar aktivitas tersebut terasa monoton. Banyak quest yang berujung pada pola fetch quest sederhana mengambil item, kembali ke NPC, dan menyelesaikan misi tanpa variasi berarti.

Bahkan fitur bounty hunting yang seharusnya menjadi daya tarik justru terasa terlalu sederhana. Target dapat ditangkap dengan mekanisme yang minim tantangan, tanpa proses investigasi atau strategi khusus.

Dunia Luas, Tapi Minim Interaksi Bermakna

Tidak dapat disangkal bahwa dunia Crimson Desert dirancang dengan skala yang sangat besar. Lanskap hutan, pegunungan, hingga kastil memberikan kesan epik khas fantasy.

Namun, luasnya dunia ini tidak selalu diimbangi dengan kepadatan konten. Dalam eksplorasi awal, pemain dapat menghabiskan waktu cukup lama berkuda tanpa menemukan aktivitas yang signifikan.

Jika dibandingkan dengan pendekatan dunia terbuka pada The Witcher 3: Wild Hunt atau Elden Ring, Crimson Desert masih tertinggal dalam hal distribusi konten dan variasi eksplorasi.

Sistem Kontrol yang Kurang Intuitif

Salah satu aspek paling bermasalah dalam impresi awal ini adalah sistem kontrol. Crimson Desert menghadirkan banyak mekanik interaksi, namun implementasinya terasa terlalu kompleks dan kurang intuitif.

Berbagai aksi dasar seperti mengangkat objek, menggunakan kemampuan, atau berinteraksi dengan lingkungan membutuhkan kombinasi tombol yang berbeda-beda. Bahkan, beberapa tombol memiliki fungsi ganda yang berpotensi memicu kesalahan input.

Kompleksitas seperti ini tidak selalu menjadi nilai tambah. Tanpa desain yang jelas dan konsisten, sistem kontrol justru berpotensi menghambat kenyamanan bermain, terutama bagi pemain baru.

Aktivitas Sampingan yang Kurang Berdampak

Crimson Desert juga memperkenalkan fitur seperti pembangunan camp dan sistem crafting. Sayangnya, dalam satu jam awal, fitur-fitur ini belum menunjukkan peran signifikan terhadap progres permainan.

Sebagai contoh, pembangunan markas membutuhkan sumber daya dalam jumlah besar, namun manfaatnya belum terasa secara langsung. Hal ini berpotensi membuat pemain kehilangan motivasi untuk mengeksplorasi sistem tersebut lebih jauh.

Combat yang Menjadi Nilai Jual Utama

Di tengah berbagai kekurangan, sistem pertarungan justru tampil sebagai aspek paling menonjol. Crimson Desert menawarkan combat yang dinamis dengan kombinasi serangan melee, ranged, serta kemampuan berbasis elemen.

Pertarungan melawan musuh biasa memang dapat diselesaikan dengan pendekatan sederhana. Namun, saat menghadapi boss, tingkat kesulitan meningkat secara signifikan, memaksa pemain untuk memanfaatkan berbagai mekanik yang tersedia.

Selain itu, kehadiran karakter lain seperti Damiane menambah variasi dalam gaya bertarung. Dengan serangan cepat dan kemampuan unik, ia memberikan alternatif gameplay yang cukup menarik.

Sistem Pergantian Karakter yang Inovatif

Fitur pergantian karakter menjadi salah satu inovasi yang patut diapresiasi. Alih-alih memindahkan karakter ke lokasi pemain, sistem ini justru memindahkan pemain ke lokasi karakter lain.

Pendekatan ini membuka kemungkinan strategi baru dalam eksplorasi dan penyelesaian misi. Sayangnya, potensi ini belum sepenuhnya dimaksimalkan karena adanya pembatasan pada beberapa quest tertentu.

Dari impresi awal ini, terlihat jelas bahwa Crimson Desert memiliki fondasi yang kuat untuk menjadi game open-world berkualitas tinggi. Dunia yang luas, sistem combat yang solid, serta fitur karakter yang variatif adalah aset utama yang dimiliki.

Namun, berbagai kekurangan seperti narasi yang lemah, quest repetitif, serta sistem kontrol yang rumit menjadi penghambat utama dalam pengalaman bermain.

Sebagai pengalaman awal, Crimson Desert menghadirkan kesan yang ambivalen. Di satu sisi, game ini menunjukkan ambisi besar dengan berbagai sistem yang kompleks. Di sisi lain, eksekusinya belum sepenuhnya matang.

Bagi penggemar game open-world, Crimson Desert tetap menjadi judul yang layak untuk dipantau perkembangannya ke depan. Terlepas dari berbagai catatan di fase awal, game ini masih menyimpan potensi besar berkat skala dunia yang luas serta fondasi gameplay yang sebenarnya sudah cukup kuat. Namun untuk saat ini, pengalaman bermainnya belum sepenuhnya mampu menjawab ekspektasi tinggi yang telah dibangun sejak pertama kali diumumkan ke publik.

Masih banyak ruang perbaikan yang perlu diperhatikan oleh Pearl Abyss, terutama pada aspek fundamental yang sangat menentukan kenyamanan dan keterlibatan pemain.

Storytelling yang terasa kurang terarah perlu diperdalam agar pemain memiliki alasan kuat untuk terus mengikuti perjalanan karakter. Di sisi lain, desain quest yang masih repetitif juga perlu dibuat lebih variatif dan bermakna, sehingga setiap aktivitas terasa memiliki tujuan yang jelas, bukan sekadar pengisi konten.

Selain itu, penyederhanaan sistem kontrol menjadi hal krusial agar gameplay terasa lebih intuitif dan tidak membebani pemain, terutama di fase awal permainan.

Jika berbagai aspek tersebut mampu dibenahi dengan baik, bukan tidak mungkin Crimson Desert akan berkembang menjadi salah satu RPG open-world yang menonjol di masanya, bahkan berpotensi bersaing dengan judul-judul besar lain di genre yang sama.

Nantikan informasi-informasi menarik lainnya dan jangan lupa untuk ikuti Facebook dan Instagram Dunia Games ya. Kamu juga bisa dapatkan voucher game untuk Mobile Legends dengan harga menarik hanya di Top-up Dunia Games.