Magic: The Gathering Terlalu Sering ke New York? Analisis Tren Baru

Magic: The Gathering Terlalu Sering ke New York? Analisis Tren Baru

Games
18 November 2025
222 views

Magic: The Gathering dikenal sebagai gim kartu yang terus memperluas imajinasinya melalui dunia-dunia fantastis. Setiap plane memiliki identitas kuat: Ravnica dengan intrik politik guild, Innistrad dengan nuansa horor gotik, Kaladesh dengan estetika steampunk penuh warna, hingga Eldraine dengan dongeng gelap dan mitologi Eropa. Selama puluhan tahun, keragaman dunia inilah yang menjadikan Magic unik. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Wizards of the Coast tampaknya mulai menemukan obsesi baru—dan bukan pada dunia magis lain, melainkan pada kota nyata: New York.

Program Universes Beyond awalnya menjadi cara Magic untuk berkolaborasi dengan franchise besar seperti Dungeons & Dragons, Warhammer 40K, dan The Lord of the Rings. Tetapi sejak perilisan set Spider-Man pada 26 September, arah kolaborasi tampaknya lebih terpaku pada Marvel Universe dan ikon-ikonnya yang berbasis di New York. Tidak berhenti di situ, tahun 2026 nanti Marvel Super Heroes dan Teenage Mutant Ninja Turtles (TMNT) juga dijadwalkan rilis dan sama-sama mengambil latar New York. Dengan pola seperti ini, kota tersebut justru akan memiliki representasi jauh lebih banyak di Magic dibandingkan plane klasik yang sudah lama tidak kembali.

Dari sudut pandang budaya, pilihan ini dapat dimengerti. Marvel dan TMNT memang tidak bisa dilepaskan dari New York. Kota itu adalah bagian penting dari identitas karakter-karakter tersebut. Tetapi dari sudut pandang artistik, pola ini mulai terasa membatasi. Magic selama ini dikenal karena mampu menghadirkan atmosfer unik melalui seni kartu, terutama basic lands yang selalu menjadi elemen visual paling ikonik dalam setiap set.

Masalahnya terlihat jelas pada dua set terbaru. Pada set Spider-Man, basic lands tampil dengan konsep jaring laba-laba yang membentuk simbol warna mana dengan latar belakang kota New York—cukup sederhana, namun masih terasa relevan. Tetapi pada set TMNT, pendekatannya justru melenceng terlalu jauh. Wizards memutuskan menggunakan pizza sebagai representasi lima warna mana. Kedengarannya unik, tetapi eksekusinya dianggap terlalu dangkal. Pizza hijau penuh brokoli dan jalapeño, pizza biru dengan ikan teri yang tampak menjijikkan, dan topping warna lain yang terasa seperti parodi dibandingkan representasi dunia Magic.

Bagi banyak pemain Magic, seni di kartu bukan sekadar dekorasi. Ini adalah bagian dari worldbuilding, cara untuk merasakan suasana sebuah plane tanpa perlu membaca lore panjang. Ketika basic lands saja terasa lelucon, maka atmosfer khas Magic ikut terkikis. Banyak pemain menilai bahwa pendekatan visual yang kurang matang ini adalah akibat dari jadwal rilis Universes Beyond yang terlalu padat, menyebabkan ide orisinal mulai terasa tipis dan karakter artistik Magic jadi bergeser.

Hal ini tentu bukan berarti kolaborasi Universes Beyond harus dihentikan. Tapi keseimbangan antara aset budaya modern dan identitas artistik Magic sangat penting. Jika tren terlalu banyak menggunakan New York terus dipertahankan, Magic berisiko kehilangan daya tarik utamanya: kemampuan membawa pemain ke dunia-dunia baru yang tidak bisa ditemui di dunia nyata.

Harapannya kini tertuju pada set Marvel Super Heroes yang dirilis tahun depan. Banyak pemain berharap Wizards mengembalikan nilai artistik pada basic lands dan memberikan pendekatan visual yang lebih kreatif dan imersif. Setelah itu, rasanya Wizards perlu mengambil jeda dari kota yang tidak pernah tidur tersebut dan kembali ke akar Magic: menciptakan dunia fantasi baru dengan gaya seni kuat yang hanya dapat ditemukan di gim ini.