Hollow Knight: Silksong dan Masalah Parry yang Bikin Frustrasi

Hollow Knight: Silksong dan Masalah Parry yang Bikin Frustrasi

Games
28 October 2025
2 views

Parry di Hollow Knight: Silksong, Fitur Penting yang Tak Memuaskan

Banyak hal dalam Hollow Knight: Silksong membuat pemain terkesima, mulai dari desain dunia yang indah hingga aksi cepat khas Hornet. Namun, di balik semua itu, ada satu fitur yang menimbulkan perdebatan di kalangan gamer: mekanik parry.

Alih-alih menjadi fitur keren yang menambah kedalaman gameplay, banyak pemain justru menganggap parry di Silksong sebagai sumber frustrasi. Eksekusinya tidak mudah, hasilnya kurang terasa, dan dalam beberapa situasi, parry malah menjadi syarat wajib untuk bertahan hidup.

Parry dalam Tren Game Modern

Dalam beberapa tahun terakhir, parry menjadi salah satu mekanik yang populer di genre aksi. Sejak Dark Souls dan Sekiro: Shadows Die Twice memperkenalkannya dengan cara yang memuaskan, banyak game lain mengikuti jejaknya.

Dalam game seperti Nine Sols atau Kingdom Come Deliverance 2, parry bukan hanya simbol skill, tapi juga cara efektif untuk mengendalikan pertempuran. Ketika dilakukan dengan tepat, pemain mendapat keuntungan besar, seperti menjatuhkan musuh, membuka celah counter, atau sekadar mendapatkan rasa puas karena berhasil membaca pola serangan.

Bahkan di Expedition 33, parry diseimbangkan dengan opsi alternatif seperti dodge atau guard, sehingga pemain tidak dipaksa untuk hanya mengandalkan satu strategi. Inilah yang membuat mekanik parry di game-game tersebut terasa alami dan menyenangkan.

Masalah Parry di Silksong

Berbeda dengan contoh di atas, parry di Silksong justru terasa kurang berdampak. Memang, Hornet bisa melakukan parry dengan timing yang tepat, namun hasilnya tidak memberi efek yang berarti. Musuh tetap menyerang tanpa jeda, tak ada efek dramatis, dan tidak jarang, pemain justru kalah karena terlalu fokus mencari momen parry sempurna.

Bagi banyak pemain, hal ini membuat parry di Silksong terasa seperti tugas wajib, bukan pilihan strategis. Dalam area seperti Hunters March, misalnya, musuh seperti ant soldiers bergerak cepat, melompat tinggi, dan menyerang dengan variasi kompleks. Dalam kondisi ini, dash atau gerakan biasa sulit diandalkan, sehingga pemain terpaksa menggunakan parry untuk bertahan.

Masalah yang sama muncul saat menghadapi musuh terbang atau yang melontarkan proyektil. Parry menjadi satu-satunya cara aman untuk menangkis serangan, tapi tanpa reward yang sepadan, hal ini justru membuat pertarungan terasa monoton.

Dibandingkan dengan Hollow Knight

Jika dibandingkan dengan game pertama, Hollow Knight orisinal justru menawarkan variasi pertarungan yang lebih luas. Setiap musuh memiliki pola unik yang mendorong pemain untuk beradaptasi.

Musuh seperti Volatile Mosskin yang meledak setelah mati, Moss Chargers yang menyerbu cepat, atau Uoma yang memuntahkan serangan mendadak — semuanya menuntut gaya bermain berbeda. Sementara itu, Silksong sering kali mengulang formula yang sama: gunakan parry, atau bersiap menerima damage.

Harapan dari Para Fans

Meski banyak yang kecewa, sebagian penggemar masih berharap Team Cherry belum memperlihatkan semua kemampuan Hornet. Bisa jadi di tahap selanjutnya, pemain akan mendapatkan alat baru, charm, atau mekanik tambahan yang membuat sistem pertarungan lebih variatif.

Beberapa bos seperti Moorwing dan Sister Splinter sudah memperlihatkan betapa pentingnya parry dalam pertempuran awal. Namun, fans berharap bahwa di fase-fase selanjutnya, pertarungan akan lebih fleksibel dan tidak sekadar bergantung pada satu teknik.

Untuk saat ini, kesan yang muncul adalah Team Cherry terlalu mengandalkan parry sebagai identitas baru Silksong, tapi belum mampu membuatnya seimbang dan memuaskan seperti game yang menginspirasinya.