Mengapa Belum Ada GOTY Bait di Dunia Game seperti Oscar Bait di Film?

Mengapa Belum Ada GOTY Bait di Dunia Game seperti Oscar Bait di Film?

Berita
10 September 2025
369 views

Mengapa Dunia Game Belum Punya GOTY Bait Seperti Film Punya Oscar Bait?

Kalau bicara soal dunia film, istilah Oscar bait sudah jadi hal yang sangat familiar. Film-film seperti CODA atau The King’s Speech jelas dibuat dengan tujuan utama memenangkan penghargaan. Festival-festival bergengsi seperti Venice, Telluride, hingga Toronto jadi panggung awal yang menentukan perjalanan film menuju Oscar season. Dari situ, kampanye berjalan seperti halnya strategi politik: penuh rencana, penuh manuver, dan targetnya jelas, yaitu piala emas Academy Awards.

Tapi kalau kita lihat dunia game, pola seperti ini belum ada. Memang ada The Game Awards (TGA) yang sering disebut sebagai Oscars of gaming, namun penghargaan ini masih jauh dari posisi “sakral” yang dimiliki Oscar di film.

The Game Awards Beda dengan Academy Awards

Pertama-tama, penting untuk memahami bahwa TGA lahir dengan DNA berbeda. Acara ini tidak digagas oleh sebuah akademi independen, melainkan dari inisiatif pribadi Geoff Keighley sejak 2014. Sejak awal, TGA dibangun dengan semangat komersial: menghadirkan penghargaan sekaligus pameran game baru.

Hasilnya, banyak gamer justru menonton TGA bukan untuk melihat siapa pemenang Game of the Year (GOTY), melainkan untuk menyaksikan trailer dan pengumuman game terbaru. Fokus utamanya lebih ke masa depan industri, bukan sekadar selebrasi karya terbaik yang sudah ada.

Dampak Penghargaan yang Mulai Terasa

Meski begitu, bukan berarti penghargaan tidak penting. Beberapa contoh membuktikan bahwa kemenangan di TGA bisa membawa dampak nyata. It Takes Two misalnya, langsung viral besar setelah menang GOTY. Begitu juga Balatro, game indie yang penjualannya melonjak drastis setelah masuk nominasi.

Bahkan Xbox sempat menyoroti bagaimana penghargaan bisa memperkuat citra layanan seperti Game Pass. Jadi, perlahan tapi pasti, penghargaan mulai menjadi bagian dari strategi pemasaran di industri game, walau belum seberat di film.

Budaya Gamer: Popularitas Justru Jadi Nilai Plus

Alasan utama mengapa belum ada GOTY bait adalah karena budaya gamer berbeda dengan penonton film. Di dunia film, Oscar jarang sekali diberikan kepada blockbuster besar. Judul seperti Titanic atau Oppenheimer adalah pengecualian yang hanya muncul sekali dalam satu dekade. Akademi biasanya lebih memilih karya yang dianggap “serius” atau “artistik”.

Sebaliknya, di dunia game justru terbalik. Pemenang GOTY seringkali adalah judul besar yang juga laris manis di pasaran. Contohnya The Witcher 3, The Legend of Zelda: Breath of the Wild, atau Elden Ring. Popularitas massal dianggap tidak bertabrakan dengan kualitas. Bahkan bisa dibilang, semakin laris sebuah game, semakin besar pula peluangnya untuk memenangkan penghargaan.

Sisi Negatif: Indie Game Sering Tersisih

Namun pola ini juga punya sisi negatif. Game indie sering kali tersingkir karena sorotan publik dan media lebih banyak mengarah ke judul-judul besar. Padahal, di ranah indie lah eksperimen kreatif dan inovasi artistik sering lebih kuat.

Bayangkan jika The Game Awards lebih memberi ruang bagi game indie. Dampaknya bisa sama besar seperti Parasitedi Oscar 2019, yang mengubah cara dunia memandang film internasional. Mungkin suatu hari nanti, ada game indie yang sengaja dirancang untuk tidak hanya sukses di pasar, tapi juga mencatatkan sejarah di panggung penghargaan.

Kesimpulan: GOTY Bait Mungkin Akan Hadir di Masa Depan

Singkatnya, alasan belum ada GOTY bait bukan karena industri game tidak peduli dengan penghargaan, tetapi karena penghargaan belum sepenting itu. Selain itu, budaya gamer cenderung lebih ramah terhadap popularitas massal dibandingkan industri film.

Namun, tren bisa berubah. Jika ke depan TGA mulai lebih inklusif terhadap game indie, mungkin kita akan melihat era baru: karya yang dibuat bukan hanya untuk laku di pasaran, tapi juga untuk meninggalkan jejak sejarah di panggung penghargaan.