Nintendo dan Pokémon Company Dapatkan Paten Baru, Ancam Kreativitas Industri Game?
Paten Baru Nintendo dan Pokémon Company Picu Kekhawatiran di Industri Game
Kabar terbaru datang dari dunia video game: Nintendo dan The Pokémon Company baru saja menerima paten baru dari U.S. Patent and Trademark Office (USPTO) yang berpotensi mengguncang industri. Paten ini, yang diajukan pada tahun 2023 dan disetujui pada 2 September 2025, berkaitan langsung dengan mekanik pertarungan dalam Pokémon Scarlet dan Violet.
Sekilas, paten ini tampak seperti perlindungan wajar terhadap inovasi dalam seri Pokémon. Namun, setelah ditelusuri lebih dalam, banyak pihak menilai bahwa cakupan patennya terlalu luas dan bisa berdampak besar bagi kreativitas pengembang lain di masa depan.
Apa Isi Paten Pokémon Ini?
Paten bernomor US 12,403,397 tersebut menjelaskan sistem permainan di mana karakter utama dapat memanggil sub-karakter (seperti Pokémon) untuk bertarung secara otomatis melawan karakter lain. Intinya, ini adalah versi hukum dari mekanik klasik pertarungan Pokémon — tapi yang mengejutkan adalah bagaimana paten ini mencakup seluruh konsep summon-based combat system.
Artinya, game lain yang menggunakan sistem serupa — misalnya karakter memanggil makhluk atau entitas lain untuk bertarung — secara teori bisa berisiko melanggar paten ini.
Menurut laporan dari Games Fray, proses persetujuan paten ini berjalan sangat cepat dan tanpa adanya keberatan dari pihak manapun. Florian Mueller, penulis laporan tersebut, menyebut hal ini sebagai “berita buruk untuk industri video game,” karena bisa menghambat inovasi dan variasi mekanik gameplay di masa depan.
Reaksi dari Para Ahli dan Pengamat
Paten ini langsung mendapat perhatian besar dari kalangan hukum dan pengembang game. Kirk Sigmon, seorang pengacara paten yang juga aktif di bidang teknologi hiburan, menilai bahwa kecepatan persetujuan ini tidak biasa dan berpotensi berbahaya.
Menurutnya, paten seperti ini memberi perusahaan besar seperti Nintendo dan Pokémon Company alat hukum yang kuat untuk melindungi merek mereka — tapi di sisi lain, bisa menekan kebebasan kreatif studio independen.
Salah satu contoh yang langsung muncul dalam diskusi publik adalah PocketPair, pengembang game Palworld, yang sempat menuai kontroversi karena kemiripan dengan Pokémon. Dengan adanya paten ini, banyak yang khawatir Nintendo bisa menggunakan dasar hukum lebih kuat untuk menindak game serupa di masa depan.
Antara Perlindungan dan Pembatasan
Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan perusahaan melindungi inovasi mereka melalui paten. Namun, masalah muncul ketika paten tersebut mencakup konsep umum yang sudah menjadi bagian dari desain game secara luas.
Sistem summon, pertarungan berbasis monster, atau AI-controlled companion bukan hal baru. Banyak game seperti Final Fantasy, Persona, bahkan Ni no Kuni telah menggunakannya jauh sebelum Scarlet & Violet.
Dengan disahkannya paten ini, pengembang game harus lebih berhati-hati dalam merancang mekanik pertarungan, karena bisa saja desain mereka dianggap terlalu mirip dengan sistem Pokémon.
Dampak Jangka Panjang untuk Industri Game
Paten ini menyoroti dilema klasik di industri hiburan digital: menjaga hak kekayaan intelektual vs mendorong kreativitas.
Nintendo dan The Pokémon Company tentu berhak melindungi karya mereka, tapi jika terlalu luas, perlindungan ini bisa memperlambat inovasi dan membatasi eksperimen kreatif — terutama bagi studio indie yang sering membawa ide segar.
Ke depan, para pengembang mungkin harus lebih teliti secara hukum sebelum merancang game bertema summon atau monster battle. Paten ini menjadi pengingat bahwa di dunia game modern, inovasi dan hukum kini berjalan berdampingan — dan kadang saling bertabrakan.