The International 2025 Catat Prizepool Terendah dalam Sejarah Dota 2

The International 2025 Catat Prizepool Terendah dalam Sejarah Dota 2

Esports
24 September 2025
194 views

The International 2025: Prizepool Terendah Sepanjang Sejarah

The International (TI) selalu jadi ajang paling ditunggu oleh penggemar Dota 2 di seluruh dunia. Bukan hanya karena kualitas pertandingannya yang spektakuler, tapi juga karena reputasinya sebagai turnamen esports dengan hadiah terbesar. Namun tahun ini, kabar mengejutkan datang: TI 2025 hanya mencatat prizepool sekitar Rp 38,24 miliar, angka terendah sepanjang sejarah TI.

Kalau dibandingkan dengan era keemasan di TI 2021 yang mencapai sekitar Rp 640 miliar, penurunan ini terasa seperti jurang yang sangat dalam. Pertanyaannya, apa sebenarnya yang membuat prizepool TI kali ini begitu kecil?

Dari Rekor Fantastis ke Angka Minimalis

Sejak edisi pertama pada 2011, The International dikenal sebagai pelopor turnamen dengan hadiah fantastis. Tiap tahun, Valve berhasil memecahkan rekor berkat sistem crowdfunding, di mana penjualan battle pass dan item eksklusif jadi penyumbang terbesar.

Tapi tren itu mulai berubah dalam beberapa tahun terakhir. Pada TI 2022, hadiah turun ke Rp 302 miliar. Lalu di TI 2023, angka itu anjlok ke Rp 54 miliar. Dan kini di TI 2025, hanya menyisakan Rp 38,24 miliar. Kalau dilihat sekilas, grafiknya benar-benar menurun tajam.

Kenapa Prizepool Bisa Turun Drastis?

Jawabannya terletak pada sistem baru yang diterapkan Valve. Untuk TI 2025, base prizepool ditetapkan di angka 1,6 juta USD. Dari situ, ditambah sekitar 791 ribu USD hasil kontribusi 30% dari penjualan Talent & Team Bundle.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, battle pass—yang biasanya jadi mesin uang utama untuk prizepool—sudah tidak lagi digunakan secara masif. Tanpa dorongan dari komunitas lewat pembelian item eksklusif, jumlah hadiah otomatis jadi jauh lebih kecil.

Dampak untuk Pemain dan Komunitas

Bagi tim dan pemain profesional, penurunan prizepool tentu bukan hal kecil. TI yang dulu dikenal sebagai turnamen dengan hadiah terbesar di dunia kini mulai kehilangan daya tarik finansialnya. Beberapa orang bahkan khawatir, daya saing Dota 2 di ranah esports bisa menurun karena para talenta lebih tergiur pindah ke game dengan ekosistem hadiah lebih besar.

Namun, di sisi lain, ada juga yang menilai hal ini justru positif. Prizepool yang lebih kecil bisa membuat fokus turnamen kembali ke hal yang paling penting: gengsi dan kualitas pertandingan. Dengan begitu, kemenangan TI kembali dianggap sebagai pencapaian prestisius, bukan sekadar hadiah uang.

Masa Depan The International

Turunnya prizepool ini memunculkan banyak pertanyaan besar. Apakah Valve akan menemukan formula baru untuk menghidupkan kembali hype TI seperti dulu? Atau mereka akan lebih fokus membangun sisi kompetitif Dota 2 tanpa bergantung pada angka hadiah yang fantastis?

Satu hal yang pasti, The International masih jadi panggung terbesar Dota 2. Meski hadiahnya lebih kecil, semangat para pemain dan dukungan komunitas tetap jadi nyawa utama turnamen ini.

Prizepool TI 2025 mungkin jadi yang terendah dalam sejarah, tapi nilainya lebih dari sekadar angka. Di balik itu, ada diskusi panjang tentang arah masa depan Dota 2 dan esports global. Pada akhirnya, para penggemar tidak hanya datang untuk melihat berapa besar hadiah, tapi juga untuk menyaksikan siapa yang bisa berdiri di puncak panggung megah The International.