Review Splinter Cell Deathwatch, Representasi Game yang On Point!

Review Splinter Cell Deathwatch, Representasi Game yang On Point!

Movie
21 October 2025
377 views

Setelah lebih dari satu dekade menunggu, Splinter Cell kembali, namun bukan dalam bentuk game, melainkan serial animasi Netflix berjudul Deathwatch. Serial delapan episode ini menampilkan Sam Fisher versi tua, kembali terjun ke dunia mata-mata setelah pensiun.

Dibuat oleh Derek Kolstad, pencipta John Wick, Deathwatch berhasil menggabungkan aksi brutal, intrik spionase, dan nostalgia bagi penggemar lama. Bagi penonton baru maupun veteran, serial ini menawarkan pengenalan yang seru ke dunia Fisher, penuh ketegangan, strategi, dan karakter yang hidup.

Splinter Cell Kembali, Tapi Kali Ini di Layar Netflix

Bagi penggemar lama, hadirnya Splinter Cell: Deathwatch di Netflix menjadi kabar yang manis sekaligus pahit. Manis, karena animasi ini berhasil menangkap esensi Sam Fisher dan dunia mata-mata yang kita kenal dari era 2000-an.

Dengan delapan episode berdurasi 22–27 menit, cerita bergerak cepat dan menegangkan, membuat penonton terus menekan tombol “Next Episode”. Liev Schreiber mengisi suara Sam Fisher dengan sangat meyakinkan, menghadirkan keseimbangan antara humor sarkastik, ketangguhan, dan sisi manusiawi karakter legendaris ini.

Pahitnya, meski Deathwatch menyenangkan, kenyataan pahitnya adalah belum ada kejelasan mengenai game baru Splinter Cell. Serial ini mengambil tempat beberapa dekade setelah Splinter Cell Blacklist, menampilkan Sam Fisher yang sudah pensiun dan menjalani hidup tenang di Polandia. Kehadirannya awalnya minim dialog, tetapi justru memberikan fokus pada karakter baru, Zinnia McKenna, yang mengawali cerita dengan misi yang gagal. Seiring perkembangan, Sam kembali menjadi pusat cerita.

Karakter dan Suara yang Menghidupkan Sam Fisher

Salah satu kekuatan utama Deathwatch adalah pengisi suara yang tepat. Liev Schreiber menghidupkan Sam Fisher dengan karisma dan ketegasan, menggantikan Michael Ironside yang selama ini identik dengan karakter tersebut. Schreiber berhasil menyampaikan humor sarkastik, ketangguhan fisik, serta sisi manusiawi Fisher, termasuk interaksinya dengan tim dan anjingnya, Kaiju.

Selain Fisher, tim Fourth Echelon menghadirkan karakter pendukung yang solid. Anna “Grim” Grímsdóttir adalah pemimpin yang tegas dan tanpa kompromi, sementara Jo menjadi penyeimbang di markas.

Thunder, seorang hacker dari Kanada, membawa dinamika berbeda, dan McKenna, agen muda yang emosional, menambahkan energi baru dalam misi. Kombinasi karakter ini menciptakan chemistry yang menarik, meski beberapa penjahat seperti Diana Shetland dan Charlie Shetland terasa kurang menonjol dibanding antagonis klasik Splinter Cell.

Aksi Brutal dan Spycraft yang Memikat

Deathwatch menonjol dengan aksi yang lebih brutal dibanding game-nya. Adegan kekerasan digambarkan dengan detail, mulai dari tusukan scalpels hingga tembakan mematikan, menekankan betapa berbahayanya dunia mata-mata bagi para agen. Meskipun bagi sebagian orang adegan ini ekstrem, bagi penggemar Splinter Cell, ini justru menambah ketegangan yang realistis dalam misi-misi berbahaya.

Selain kekerasan, aspek stealth atau mata-mata tetap dipertahankan. Fisher tetap melakukan aksi di kegelapan, melakukan choke-out, dan memanfaatkan gadget meski beberapa ikon klasik seperti Sticky Shocker atau SC-20k tidak muncul. Agent McKenna lebih condong ke aksi frontal, menciptakan dinamika yin-yang dengan gaya stealth Fisher. Ini memberikan variasi visual dan strategis yang menyenangkan bagi penonton.

Visual Animasi dan Gaya Narasi

Deathwatch menggunakan animasi ala western yang cukup konvensional. Gaya visual ini mungkin terasa kurang inovatif jika dibandingkan dengan standar Arcane atau Wolfwalkers, terutama mengingat franchise Splinter Cell terkenal dengan permainan cahaya dan bayangan. Beberapa adegan terasa kaku dan kurang ekspresif dalam gerakan, padahal narasi menuntut ketegangan visual untuk mendukung aksi stealth.

Meski demikian, animasi tetap mampu menghidupkan momen-momen penting dan pertarungan kompleks. Kolstad selaku showrunner menghadirkan formula aksi yang tersusun rapi, memadukan pukulan cepat, pergerakan taktis, dan pacing yang memikat. Referensi misi klasik dan Easter eggs dari game menambah kedalaman bagi penggemar lama, sekaligus menjadi pengantar yang cukup bagi pemirsa baru.

Sebuah Adaptasi Solid Sam Fisher!

Splinter Cell: Deathwatch adalah adaptasi solid yang menghadirkan Sam Fisher versi tua dengan aksi brutal, tim yang kuat, dan cerita menegangkan. Liev Schreiber berhasil menghidupkan karakter legendaris ini, sementara referensi game lama memuaskan penggemar lama.

Meski animasi standar dan beberapa musuh kurang menonjol, pacing cepat dan chemistry karakter tetap membuatnya menarik. Serial ini membuktikan bahwa Splinter Cell masih relevan, menghadirkan ketegangan mata-mata, humor, dan nostalgia. Deathwatch meninggalkan kesan kuat, membuat penonton menantikan Season 2 atau game baru.

Jangan ketinggalan informasi penting mengenai game AAA hanya di Dunia Games. Klik di sini untuk informasi terbarunya ya.

Nantikan informasi-informasi menarik lainnya dan jangan lupa untuk ikuti Facebook dan Instagram Dunia Games ya. Kamu juga bisa dapatkan voucher game untuk Mobile Legends dengan harga menarik hanya di Top-up Dunia Games.