Sejarah Esports Indonesia, Berawal dari Misi Penyelamatan Putri Peach dari Browser?
Mata siapa yang nggak hijau ngeliat angka ratusan hingga jutaan dollar yang di prize pool turnamen esports di era sekarang. Tak hanya angka prize pool yang fantastis, turnamen esports juga selalu menyita jutaan pasang mata yang ingin menyaksikan aksi tim kesayangan mereka di panggung super megah.
Para developer game bahkan berlomba-lomba bakar uang untuk total hadiah yang besar, panggung hiburan dari artis papan atas, sampai animasi 3D yang keren dari setiap karakter game mereka. Semua itu diwujudkan demi mendapatkan pengakuan.
Secara ekonomi esports juga menawarkan sebuah industri yang menjanjikan. Indonesia sebagai salah satu pasar esports terbesar, menyumbang sekitar 43% dari total 274,5 juta gamer di Asia Tenggara.
Melihat angka ini tentu tak heran kenapa Indonesia seringkali menjadi salah satu tujuan utama untuk dipercaya menggelar event-event esports level dunia, seperti PMGC, M Series World Championship, FFWS Global, IESF World Championship, sampai Bali Major.
Namun, dari mana semua kemegahan ini berawal? Yuk, kita jejaki lebih dalam bagaimana sejarah esports di Indonesia, dari akar komunitas sampai jadi industri bernilai miliaran rupiah.
Sejarah Esports Indonesia: Misi Penyelamatan Putri Peach dari Browser
Berawal dari niat sederhana, mencari kesenangan dan hobi bermain game, mulai beralih ke ajang pembuktian diri siapa yang lebih jago di antara yang lain, membuat Taman Hiburan Rakyat Surabaya dipenuhi oleh para pemain Nintendo pada tahun 1989 lalu.

Foto: Lomba Nintendo di Taman Hiburan Rakyat Surabaya tahun 1989. (source: Fanpage Surabaya Punya Cerita)
Sebenarnya, tak ada satupun catatan ataupun arsip resmi yang berhasil menangkap kapan dan di mana turnamen game pertama kali diadakan di Indonesia. Kecuali sebuah foto yang beredar di fanpage Surabaya Punya Cerita.
Foto itu menunjukkan sebuah spanduk ucapan selamat datang untuk para peserta lomba Nintendo tingkat Jawa Timur pada tahun 1989 yang dipercaya sebagai lomba bermain game pertama. Dari komentar menunjukkan bahwa game yang dimainkan kala itu adalah Super Mario Bros, sebuah game dengan karakter ikonik dari Nintendo yang dirilis pada tahun 1985 lalu.
Siapa yang menyangka, kemegahan industri game dan esports di Indonesia sekarang, ternyata berawal dari lomba misi menyelamatkan seorang Putri Peach dari Bowser.
Era Warnet: Awal Mula Komunitas Esports Tumbuh
Kalau ngomongin awal mula esports Indonesia, kita nggak bisa lepas dari masa kejayaan warnet, masa di mana komunitas game pertama kali tumbuh dan saling berkumpul satu sama lain. Dari sanalah game center atau warnet mulai menjamur dan menawarkan game-game seperti Half-Life yang menjelma menjadi Counter-Strike serta Defense of the Ancients (DotA) yang masih custom map di Warcraft III.
Persaingan antara para pemain dan pemain sampai warnet ke warnet, menumbuhkan jiwa-jiwa kompetitif. Turnamen-turnamen kecil mulai bermunculan dengan hadiah yang mungkin tidak seberapa, tapi jadi ajang adu gengsi dan nama tim adalah taruhan utama. Dari sinilah bibit-bibit pro player Indonesia lahir.
Pada tahun 1999, Komunitas Indonesian Gamers menggelar turnamen untuk game Starcraft dan Quake III di Jakarta. Hanya bermodalkan sumber daya seadanya dari komunitas, turnamen ini mengharuskan para player untuk membawa PC sendiri, pasang-pasang sendiri, sampai listrik jeglek jadi hal yang biasa.
Komunitas gamers Indonesia pada saat itu berkumpul dalam forum Ligagame yang dibentuk oleh Ketua Bidang Hubungan Internasional PB ESI, Eddy Lim. Selain itu para gamers di Indonesia juga tumbuh dalam forum-forum seperti Kaskus atau Gamexeon.com.

Foto: Dokumentasi Eddy Lim (Founder Ligagame) di WCG 2003. (source: Hybrid)
Hingga pada tahun 2001, Ligagame mendapatkan lisensi World Cyber Games (WCG), kompetisi esports internasional yang mulai eksis sejak tahun 2000 dan sering disebut sebagai "Olimpiade Esports". Di tahun berikutnya, WCG Indonesia diadakan di Mall Taman Anggrek sebagai ajang seleksi tim perwakilan Indonesia ke WCG di Daejeon, Korea Selatan.
Munculnya Turnamen Nasional dan Organisasi Esports
Tim Olo keluar sebagai pemenang dari WCG Indonesia di cabang game Counter Strike, sekaligus menjadi tim esports Indonesia pertama yang melangkah ke kejuaraan Internasional. Dari sana, esports Indonesia terus naik level dengan organisasi, game baru, hingga berbagai event nasional-internasional yang bermunculan.
Nama-nama seperti Team XCN (Executioners), Team NXL, dan Team RRQ, menjadi pengisi papan atas organisasi esports pada game Counter-Strike, Dota2, dan Point Blank. Turnamen berskala nasional mulai rutin digelar. Game seperti Dota 2 dan League of Legends mulai punya scene kompetitif yang lebih terstruktur. Tim-tim Indonesia bahkan sempat unjuk gigi di turnamen Asia Tenggara.
Revolusi Mobile Gaming: Titik Balik Esports Indonesia
Tak bisa dipungkiri, masuknya Mobile Legends: Bang Bang mengubah segalanya. Ini menjadi fase paling krusial dalam sejarah esports Indonesia: kebangkitan game mobile. Dengan akses yang lebih mudah (cukup smartphone dan koneksi internet), esports jadi lebih inklusif dan masif.
Mobile Legends Professional League Indonesia (MPL ID) sukses menarik jutaan penonton. Tim-tim besar seperti EVOS Esports, RRQ, BTR mulai dikenal luas, bahkan di luar komunitas gamer. Di era ini, kita mulai melihat esports mulai tayang di televisi nasional, pro player punya fanbase besar, industri esports mulai dilirik investor besar. Mobile gaming menjadi katalis yang membuat esports benar-benar “meledak” di Indonesia.
Streaming dan platform seperti YouTube mulai berperan besar dalam eksposur pemain. Esports mulai dianggap sebagai jalur karir potensial, meskipun masih banyak yang meragukannya. Berkarir menjadi pro player esports bukan lagi cita-cita yang mustahil. Mendengar anak-anak yang punya cita-cita menjadi “pro player esports” sepertinya sudah lumrah kita dengar.
Era Industri Menjanjikan dan Terstruktur
Pemerintah membentuk Pengurus Besar Esports Indonesia (PBESI), dan mulai memberikan dukungan lebih serius terhadap perkembangan industri ini. Prestasi tim Indonesia juga makin bersinar. Contohnya EVOS juara dunia M1 MLBB dan FFWC 2019, serta BTR RA yang menjuarai PMCO 2019.

Dengan populasi gamer yang besar dan penetrasi internet yang terus meningkat, masa depan esports Indonesia terlihat cerah. Tantangan tentu masih ada — mulai dari regenerasi pemain, kestabilan finansial tim, hingga edukasi soal karier esports.
Namun melihat perjalanan panjang dari era warnet hingga panggung internasional, satu hal jelas: esports Indonesia bukan lagi sekadar hobi. Ia sudah menjadi bagian dari budaya pop dan industri kreatif nasional.
Jejak sejarah esports di Indonesia adalah cerita tentang komunitas, mimpi, dan evolusi teknologi. Dari turnamen kecil di warnet sampai stadion penuh penonton. Dari sekedar hobi bermain game menjadi cita-cita sebagai karir impian.
Perjalanan ini membuktikan bahwa game kompetitif punya tempat besar di hati masyarakat Indonesia. Buat kamu penikmat scene esports Indonesia, bagian mana yang paling berkesan? Era warnet? Atau momen tim Indonesia juara dunia?