The New Mutants: Film X-Men Underrated yang Layak Dihargai
The New Mutants: Kisah Mutan yang Lebih Baik dari Reputasinya
Ketika kita bicara soal franchise X-Men dari Fox, kebanyakan orang langsung mengingat masa keemasan dengan film pertama tahun 2000 dan sekuelnya, X2: X-Men United. Namun, seiring berjalannya waktu, kualitas film naik-turun drastis. Ada momen mengecewakan seperti X-Men: The Last Stand dan X-Men Origins: Wolverine, lalu ada juga film solid seperti First Class atau Days of Future Past. Sayangnya, di akhir 2010-an, popularitas X-Men mulai meredup. Salah satu korban dari periode itu adalah The New Mutants, yang akhirnya dirilis pada 2020.
Film ini sempat jadi bahan pembicaraan karena jadwal tayangnya yang berantakan. Awalnya direncanakan rilis 2018, lalu ditunda beberapa kali, sampai akhirnya benar-benar tayang di bioskop pada Agustus 2020, tepat di masa pandemi COVID-19. Tak heran kalau hasil box office-nya lesu, hanya di bawah 50 juta dolar secara global. Banyak yang melupakan film ini begitu saja. Padahal, kalau ditonton lagi, The New Mutants sebenarnya jauh lebih baik dari reputasinya.
Cerita Berfokus pada Trauma dan Identitas
The New Mutants mengisahkan Dani Moonstar (Blu Hunt), seorang gadis muda dari komunitas Cheyenne yang selamat dari tragedi misterius. Ia terbangun di sebuah fasilitas yang dikelola Dr. Reyes (Alice Braga). Tempat itu disebut sebagai rumah sakit untuk para mutan baru belajar mengendalikan kekuatan mereka. Masalahnya, baik Dani maupun Dr. Reyes tidak tahu apa sebenarnya kekuatan Dani.
Selama di sana, Dani bertemu mutan remaja lain: Rahne Sinclair (Maisie Williams), Illyana Rasputin (Anya Taylor-Joy), Roberto da Costa (Henry Zaga), dan Sam Guthrie (Charlie Heaton). Alih-alih sekadar pamer aksi superhero, film ini lebih menyoroti trauma yang mereka alami. Kekuatan para mutan digambarkan sebagai sumber ketakutan dan horor, bukan sekadar anugerah.
Nuansa Horor dan Drama Remaja
Sutradara Josh Boone mengarahkan film ini sebagai perpaduan horor ringan dan drama remaja. Ada jumpscare, makhluk menyeramkan, dan suasana rumah sakit yang misterius. Tapi di balik itu, ada juga kisah personal yang hangat, terutama hubungan romantis antara Dani dan Rahne. Representasi queer ini menjadi salah satu nilai lebih film, karena masih jarang terlihat dalam genre superhero besar.
Di bagian akhir, film menampilkan pertarungan melawan makhluk raksasa. Meski efek CGI-nya tidak selevel film blockbuster X-Men sebelumnya, adegan ini tetap cukup seru. Illyana Rasputin, dengan pedang mistis dan kemampuan teleportasinya, jadi bintang utama di klimaks film.
Underrated tapi Layak Ditonton
Sayangnya, kecil kemungkinan para aktor muda ini akan kembali memerankan karakter mereka. Tidak ada nostalgia besar seperti yang dialami aktor-aktor X-Men generasi awal. Dengan masuknya X-Men ke Marvel Cinematic Universe, The New Mutants mungkin akan tetap berdiri sendiri tanpa kelanjutan.
Namun, itu bukan alasan untuk melupakan film ini. The New Mutants justru menarik karena berani tampil berbeda: lebih intim, lebih fokus ke psikologi karakter, dan punya nuansa horor yang unik. Meski bukan masterpiece, film ini jelas lebih baik daripada label “gagal total” yang sering menempel padanya.
Bagi yang penasaran, The New Mutants kini bisa ditonton di Disney+ atau disewa lewat berbagai platform digital. Kalau kamu penggemar X-Men atau sekadar ingin menonton film superhero dengan pendekatan berbeda, The New Mutants pantas ada di daftar tontonanmu.