Fenomena Ganti Roster di MPL ID Harus Berubah, BTR Mulai Ikuti ONIC
Penulis: Redzi Arya Pratama
Kompetisi MPL ID selalu menghadirkan cerita menarik setiap musimnya. Bukan hanya soal pertandingan di dalam Land of Dawn, tetapi juga keputusan-keputusan besar yang diambil organisasi setelah musim berakhir. Salah satu fenomena yang terus berulang adalah Ganti Roster di MPL setiap kali tim gagal mencapai target yang diinginkan.
Dalam beberapa musim terakhir, publik terbiasa melihat tim-tim besar langsung melakukan evaluasi besar-besaran setelah gagal juara. Tidak sedikit organisasi yang memilih mengganti pemain inti, pelatih, bahkan membangun ulang fondasi tim hanya karena satu musim yang dianggap tidak memuaskan. Fenomena ini perlahan menjadi budaya yang seolah dianggap normal dalam ekosistem kompetitif Indonesia.
Padahal, kegagalan dalam satu musim tidak selalu berarti sebuah roster telah mencapai batas kemampuannya. Banyak faktor yang memengaruhi hasil akhir sebuah tim, mulai dari performa individu, adaptasi meta, chemistry antarpemain, hingga pengalaman bermain di bawah tekanan panggung besar. Sayangnya, aspek-aspek tersebut sering kali kalah oleh tuntutan hasil instan.
Akibatnya, proses pengembangan pemain menjadi sulit terjadi secara maksimal. Setiap musim, pemain harus kembali beradaptasi dengan rekan setim baru, membangun komunikasi dari awal, dan mempelajari gaya bermain yang berbeda. Siklus ini terus berulang tanpa memberi kesempatan bagi sebuah roster untuk benar-benar mencapai potensi terbaiknya.
Fenomena Ganti Roster di MPL sebenarnya cukup kontras jika dibandingkan dengan apa yang terjadi di Filipina. Banyak tim MPL PH yang memilih mempertahankan komposisi mereka dalam waktu lama meski belum langsung meraih gelar. Mereka memahami bahwa membangun tim juara membutuhkan waktu, kesabaran, dan kepercayaan terhadap proses.
Menariknya, beberapa contoh sukses di MPL ID justru datang dari tim-tim yang tidak terlalu sering melakukan perubahan drastis. ONIC Esports dan Bigetron Esports menjadi bukti bahwa mempertahankan fondasi tim dalam jangka panjang dapat menghasilkan perkembangan yang jauh lebih signifikan dibandingkan pergantian roster secara terus-menerus.
Ganti Roster di MPL ID Tak Buat Berkembang, Pemain Butuh Proses

Fenomena Ganti Roster di MPL memang sudah menjadi bagian dari dinamika kompetitif Indonesia. Namun jika diperhatikan lebih dalam, kebiasaan ini sering kali membuat tim kehilangan kesempatan untuk membangun identitas permainan yang kuat.
Ketika sebuah tim gagal menjadi juara, reaksi pertama yang muncul hampir selalu berkaitan dengan perubahan pemain. Seolah-olah solusi utama dari setiap kegagalan adalah mengganti personel yang ada. Padahal dalam banyak kasus, masalah sebenarnya tidak selalu berada pada kualitas individu pemain.
Sebuah tim esports membutuhkan waktu yang panjang untuk membangun chemistry. Komunikasi di dalam pertandingan, pemahaman terhadap kebiasaan rekan setim, hingga pembagian peran yang efektif tidak bisa dibentuk hanya dalam hitungan minggu atau satu musim kompetisi.
Hal ini terlihat sangat jelas jika menengok perkembangan tim-tim kuat dari Filipina. Banyak roster MPL PH yang membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun sebelum akhirnya mampu tampil konsisten sebagai penantang gelar. Organisasi di sana cenderung memberikan ruang bagi pemain untuk berkembang dan belajar dari kegagalan.
Sementara itu di Indonesia, ekspektasi tinggi sering kali membuat proses tersebut terputus sebelum mencapai hasil maksimal. Ketika satu musim berakhir tanpa trofi, perombakan besar langsung dilakukan. Akibatnya, proses pembangunan tim harus dimulai dari nol lagi pada musim berikutnya.
Contoh paling nyata datang dari ONIC Esports. Sejak mulai mendominasi MPL ID pada Season 10, ONIC dikenal sebagai tim yang relatif stabil dalam urusan roster. Mereka memang melakukan perubahan, tetapi tidak pernah sampai merombak seluruh fondasi tim yang sudah terbukti kuat.
Trio mid mereka, yaitu Kairi, Sanz, dan Kiboy, menjadi contoh sempurna bagaimana kepercayaan terhadap pemain dapat menghasilkan dominasi jangka panjang. Ketiganya terus dipertahankan meski tim mengalami pasang surut di berbagai turnamen.
Jika ada perubahan, ONIC biasanya hanya melakukan penyesuaian kecil pada posisi sidelane, baik EXP Lane maupun Gold Lane. Strategi ini membuat fondasi permainan tim tetap terjaga sehingga proses adaptasi tidak perlu dimulai dari awal.
Hasilnya terlihat sangat jelas. ONIC berhasil menjadi salah satu dinasti terbesar dalam sejarah MPL Indonesia. Mereka mampu mempertahankan identitas permainan yang kuat, memahami satu sama lain dengan sangat baik, dan terus berkembang dari musim ke musim.
Pada MPL ID Season 17, pendekatan tersebut kembali membuahkan hasil. ONIC tidak melakukan banyak perubahan besar terhadap komposisi pemainnya. Mereka hanya mendatangkan Kelra sebagai tambahan kekuatan di Gold Lane.
Kehadiran Kelra justru menjadi penyempurna dari fondasi yang sudah sangat solid. Karena inti roster tetap sama, proses adaptasi berjalan lebih cepat dibandingkan tim yang melakukan perombakan besar-besaran. Hasilnya, ONIC kembali tampil superior sepanjang musim reguler dan masuk playoff sebagai salah satu kandidat terkuat untuk meraih gelar juara.
Kisah menarik lainnya datang dari Bigetron Esports. Berbeda dengan kebiasaan umum yang terjadi di MPL ID, Bigetron memilih mempertahankan seluruh pemainnya dari Season 16 ke Season 17.
Keputusan tersebut sempat dipertanyakan oleh banyak pihak. Pasalnya, Bigetron gagal mencapai target besar pada musim sebelumnya. Dalam situasi seperti itu, biasanya publik akan menuntut perubahan pemain demi mendapatkan hasil yang lebih baik.

Namun Bigetron memilih jalur berbeda. Mereka percaya bahwa roster yang ada masih memiliki ruang untuk berkembang. Alih-alih mencari pemain baru, fokus utama mereka adalah memperbaiki koordinasi, meningkatkan pemahaman permainan, dan memperkuat chemistry yang telah terbentuk.
Hasilnya mulai terlihat saat playoff berlangsung. Bigetron menunjukkan perkembangan yang signifikan dibandingkan musim sebelumnya. Permainan mereka terlihat lebih matang, lebih disiplin, dan lebih percaya diri ketika menghadapi lawan-lawan kuat.
Salah satu bukti paling nyata adalah keberhasilan mereka memulangkan EVOS dari persaingan playoff. Kemenangan tersebut menunjukkan bahwa roster yang sama masih mampu berkembang ketika diberikan waktu yang cukup untuk berproses.
Meski perjalanan mereka belum tentu berakhir dengan trofi juara, pencapaian tersebut sudah memperlihatkan sebuah pesan penting. Kesuksesan tidak selalu datang melalui pergantian pemain. Terkadang, hasil terbaik justru muncul ketika organisasi memberikan kepercayaan kepada roster yang sudah ada.
Fenomena Ganti Roster di MPL pada akhirnya perlu dipandang dengan lebih bijak. Pergantian pemain memang terkadang diperlukan, terutama ketika sebuah tim benar-benar mengalami kebuntuan. Namun menjadikan pergantian roster sebagai solusi utama setiap kali gagal juga bukan pendekatan yang ideal.
Tim-tim Indonesia bisa belajar dari keberhasilan ONIC maupun perkembangan Bigetron. Membangun tim juara membutuhkan waktu yang panjang. Chemistry, pengalaman, dan kedewasaan bermain tidak dapat dibeli secara instan melalui transfer pemain.
Jika organisasi mampu memberikan ruang bagi para pemain untuk tumbuh bersama, maka peluang menciptakan roster yang benar-benar kuat akan jauh lebih besar. Karena dalam esports modern, proses sering kali menjadi pembeda utama antara tim yang hanya sesaat bersinar dan tim yang mampu membangun era kejayaannya sendiri.
Pada akhirnya, Ganti Roster di MPL tidak selalu menjadi jawaban dari kegagalan. Terkadang yang dibutuhkan sebuah tim bukan perubahan besar, melainkan kesabaran untuk menunggu proses berkembang hingga mencapai titik sempurna.
Nantikan informasi-informasi menarik lainnya dan jangan lupa untuk ikuti Facebook dan Instagram Dunia Games ya. Kamu juga bisa dapatkan voucher game untuk Mobile Legends, Free Fire, Call of Duty Mobile dan banyak game lainnya dengan harga menarik hanya di Top-up Dunia Game