Review Onimusha: Way of the Sword – Simulasi Jadi Samurai yang Satisfying
- Onimusha: Way of the Sword terasa seperti simulasi menjadi samurai dengan combat yang memuaskan.
- Issen, combo, dodge, dan parry membuat pertarungan terasa cepat, responsif, dan sinematik.
- Cerita misterius tentang Oni Gauntlet, Musashi, dan Ganryu menjadi alasan utama untuk terus bermain.
- Visual indah dan performa PS5 yang lancar memperkuat pengalaman, meski variasi musuh dan beberapa animasi masih terasa repetitif.
- Untuk kebutuhan game, kamu bisa melakukan top up Google Play di Dunia Games.
Setelah lebih dari 20 tahun, Capcom akhirnya membawa kembali seri Onimusha lewat Onimusha: Way of the Sword. Kali ini, pemain diajak mengikuti perjalanan Miyamoto Musashi di Kyoto pada awal era Edo yang sudah berubah menjadi dunia penuh Genma dan kekuatan supernatural.
Buat saya yang belum pernah memainkan seri Onimusha sebelumnya, game ini memberikan kesan yang cukup menarik. Saya tidak datang dengan nostalgia terhadap game PS2, sehingga pengalaman bermain tiga jam pertama benar-benar terasa seperti perkenalan dengan sebuah franchise baru.
Dan kesan terbesarnya cukup sederhana: memainkan Onimusha: Way of the Sword terasa seperti simulasi menjadi samurai.
Bukan karena game ini mencoba menjadi simulasi realistis. Justru sebaliknya, Musashi dibuat sangat kuat. Ia bisa menghadapi banyak musuh sekaligus, melakukan combo, menghindari serangan, melakukan parry, lalu menghabisi lawan dengan gerakan yang terlihat sangat sinematik.
Itulah yang membuat tiga jam pertama game ini terasa memuaskan.
Onimusha Kembali Setelah 20 Tahun
Onimusha: Way of the Sword merupakan game baru dalam seri Onimusha, bukan remake dari Onimusha: Warlords. Game ini menjadi judul baru pertama dalam franchise tersebut setelah lebih dari dua dekade.
Capcom menempatkan Miyamoto Musashi sebagai protagonis dan membawa pemain ke Kyoto pada awal periode Edo. Di dunia tersebut, muncul ancaman Genma yang membuat perjalanan Musashi berubah menjadi pertarungan antara manusia dan makhluk supernatural. Capcom sendiri menyebut game ini sebagai swordplay action dengan nuansa dark fantasy.
Kembalinya Onimusha juga punya alasan yang cukup jelas. Capcom memang sedang berusaha mengaktifkan kembali sejumlah IP lama yang sudah lama tidak mendapatkan game baru.
Hasilnya sejauh ini cukup menjanjikan. Way of the Sword terjual lebih dari satu juta kopi pada hari pertama dan membuat total penjualan franchise Onimusha melewati 10 juta unit.
Tiga Jam Pertama yang Langsung Menawarkan Pedang
Hal pertama yang saya rasakan ketika memainkan Way of the Sword adalah kepuasan saat menghunuskan pedang.
Musuh datang dalam jumlah banyak. Musashi kemudian bisa membabat mereka menggunakan rangkaian serangan yang terasa cepat, berat, dan responsif.
Kontrolnya juga mudah dipelajari.
Setelah beberapa waktu, saya mulai terbiasa melakukan dodge, parry, dan serangan menggunakan muscle memory. Pada titik tertentu, saya sudah bisa melancarkan combo tanpa terlalu banyak berpikir mengenai tombol yang harus ditekan.
Bagi saya, ini menjadi salah satu keberhasilan terbesar game tersebut.
Combat-nya membuat pemain merasa kuat.
Issen yang Mudah Dipahami
Salah satu mekanik khas Onimusha adalah Issen.
Dalam pengalaman saya, Issen tidak terasa sebagai mekanik yang sulit dikuasai. Pemain hanya perlu menekan tombol pada timing yang tepat ketika menghadapi serangan musuh.
Setelah memahami ritmenya, mekanik tersebut justru terasa natural.
Hal yang menarik adalah bagaimana game memberikan momen slow motion ketika Musashi melakukan rangkaian serangan tertentu. Ada pula tanda ketika serangan musuh datang sehingga pemain bisa bereaksi dengan cepat.
Hasilnya adalah combat yang terasa seperti film aksi.
Momen favorit saya terjadi ketika Musashi berhadapan dengan banyak musuh. Dengan menekan tombol tertentu, ia bisa mengalahkan satu musuh lalu melompat untuk menyerang lawan berikutnya.
Di sinilah saya merasa bahwa Way of the Sword memang ingin membuat pemain merasa seperti samurai yang sangat kuat.
Bukan Sekiro, Lebih Dekat ke Action Adventure
Setelah tiga jam, saya tidak melihat Way of the Sword sebagai Soulslike.
Game ini lebih terasa seperti perpaduan antara game action modern yang story-driven dengan hack-and-slash.
Perbandingan dengan God of War terasa cukup masuk akal dari sisi presentasi. Cerita berjalan secara sinematik, karakter utama sangat kuat, sementara pertarungan dibuat agar pemain bisa menikmati rangkaian serangan tanpa harus menghadapi tingkat kesulitan ekstrem.
Way of the Sword bukan Soulslike meskipun memiliki sistem soul dan mekanik parry. Kematian tidak memberikan hukuman berat seperti yang biasa ditemukan pada game Soulslike. Buat saya, ini justru menjadi salah satu kelebihannya. Kalau ingin game action yang santai, mudah dipahami, tetapi tetap memberikan kepuasan ketika mengalahkan banyak musuh, Way of the Sword berada di jalur yang tepat.
Musuhnya Mengancam, Tapi Mulai Repetitif
Namun ada satu masalah yang sudah terasa sejak tiga jam pertama: variasi musuhnya mulai repetitif.
Musuh yang paling sering saya temui adalah makhluk mayat hidup. Desain mereka sebenarnya cukup menarik dan berhasil memberikan kesan dark fantasy, tetapi jenis musuh yang berulang membuat pertarungan terasa semakin mudah ditebak.
Pada akhirnya, pendekatan saya hampir selalu sama.
Pelajari ritme serangan, hindari serangan, lalu balas dengan combo.
Sejauh ini, saya belum menemukan banyak musuh yang benar-benar memaksa saya mengubah gaya bermain.
Boss Lebih Menarik daripada Musuh Biasa
Saya sudah menghadapi tiga boss dalam tiga jam pertama dan pengalaman melawannya terasa lebih menarik.
Pola dasarnya cukup mudah dipahami.
Boss menyerang, kemudian memiliki jeda. Pada momen tersebut, Musashi bisa melancarkan combo. Setelah boss kembali bersiap menyerang, saya harus berhenti menyerang dan bersiap melakukan dodge.
Pertarungan seperti ini membuat saya belajar membaca ritme.
Salah satu boss yang paling membekas adalah Ganryu.
Ia diperkenalkan sebagai pendekar pedang yang sombong. Saya mengira karakter ini akan menjadi rival penting bagi Musashi.
Ternyata, ia justru dibunuh monster dari belakang.
Too soon.
Saya sempat mengira cerita Ganryu sudah selesai. Ternyata ia kemudian bangkit kembali menggunakan Oni Gauntlet, sama seperti Musashi.
Ketika berhasil dikalahkan, Ganryu bahkan masih bisa melarikan diri.
Dari sisi cerita, karakter ini membuat saya penasaran karena saya ingin mengetahui sebenarnya apa yang terjadi dengan dirinya.
Miyamoto Musashi yang Mudah Disukai
Musashi menjadi salah satu alasan utama saya ingin melanjutkan permainan.
Pada awal permainan, ia diperlihatkan sebagai sosok yang masih memiliki kepedulian terhadap orang lain. Ada momen ketika ia membantu seorang anak kecil yang kelaparan.
Namun begitu pertarungan dimulai, karakternya berubah menjadi sosok yang sangat berbahaya.
Musashi bisa menghadapi banyak musuh bersenjata sekaligus.
Kontras tersebut membuatnya mudah disukai.
Ia juga memiliki sisi yang terasa komikal. Ketika dunia di sekitarnya penuh monster mengerikan, Musashi terkadang justru memberikan kesan seperti protagonis film aksi yang terlalu percaya diri.
Perpaduan ini membuat atmosfer game terasa unik.
Kyoto yang Indah Sekaligus Mengerikan
Dunia Way of the Sword memiliki perpaduan antara keindahan dan kengerian.
Kyoto digambarkan dengan visual yang sangat indah. Saya memainkan game ini di TV layar besar dan dunia yang ditampilkan terasa seperti lukisan Jepang yang hidup.
Karakter manusia dibuat lebih berwarna dan menjadi pusat perhatian.
Sebaliknya, monster memiliki desain yang lebih gelap, kelam, dan menjijikkan.
Perbedaan tersebut membuat atmosfer dark fantasy terasa kuat.
Ada pula desain boss yang sengaja dibuat mengganggu. Salah satunya memiliki bagian tubuh yang sangat besar dan dapat menjadi sasaran serangan.
Game ini memang ingin membuat pemain merasa sedang memasuki Jepang yang sudah berubah menjadi tempat berbahaya.
Cerita Misterius Membuat Saya Terus Bermain
Alasan terbesar saya masih ingin melanjutkan permainan adalah cerita. Saya ingin mengetahui sebenarnya apa fungsi Oni Gauntlet.
Mengapa Musashi bisa kembali dari kematian?
Mengapa Ganryu juga mendapatkan kekuatan serupa?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi alasan sederhana untuk terus memainkan cerita.
Menariknya, cutscene juga tidak terasa terlalu banyak. Porsinya menurut saya pas. Dialog cukup menjelaskan situasi tanpa terasa bertele-tele.
Eksplorasi Lebih Luas dari Dugaan

Meskipun Way of the Sword merupakan game story-driven, levelnya tidak terasa sepenuhnya linear.
Ada beberapa cabang jalan yang membuat saya harus mencari tahu ke mana sebenarnya harus pergi.
Saya bahkan sempat tersesat.
Namun tersesat di sini bukan karena desain level yang buruk. Setelah memperhatikan lingkungan dan melakukan pengecekan ulang, saya akhirnya menemukan jalan keluar.
Ada pula puzzle ringan yang membuat saya harus mondar-mandir mencari solusi.
Puzzle tersebut bukan sesuatu yang sangat sulit, tetapi cukup untuk memberikan jeda dari pertarungan.
Ada puzzle yang mengingatkan saya pada mekanik di game seperti God of War atau It Takes Two, terutama ketika harus menggunakan panah untuk menyelesaikan mekanisme tertentu.
Bagi saya, hal tersebut justru membuat puzzle lebih familiar.
Panah Menjadi Pelengkap Pedang
Sejauh tiga jam pertama, pedang masih menjadi senjata utama.
Saya juga mendapatkan panah yang lebih sering digunakan untuk menyelesaikan puzzle atau kebutuhan tertentu. Sistem ini membuat eksplorasi tidak selalu berujung pada pertarungan.
Ada saat ketika pemain harus memperhatikan lingkungan dan mencari cara untuk membuka jalan.
Saya belum mendapatkan seluruh variasi senjata, sehingga aspek ini masih menjadi salah satu alasan saya ingin melanjutkan permainan.
Visualnya Memanjakan Mata
Dari sisi visual, saya sangat menyukai Way of the Sword. Terutama ketika dimainkan di TV layar besar. Lingkungannya terlihat seperti lukisan Jepang yang bergerak.
Namun karakter menjadi pusat perhatian. Musashi dengan wajah Toshiro Mifune memiliki penampilan yang kuat dan kharismatik. Karakter pendukung juga memiliki desain yang mudah dibedakan.Kontras dengan monster yang sengaja dibuat gelap membuat dunia game semakin menarik.
RE Engine juga membantu Capcom menghadirkan presentasi yang terlihat modern.
Suara Pedang Membuat Combat Semakin Berbobot
Sound effect juga menjadi bagian yang membuat pertarungan terasa memuaskan.
Suara ketika pedang bertemu pedang terdengar sangat akurat.
Saat parry berhasil, ada sensasi benturan yang membuat saya merasa bahwa dua senjata benar-benar bertabrakan.
Musik juga membantu meningkatkan adrenalin ketika pertarungan berlangsung.
Jadi kepuasan combat tidak datang dari animasi saja.
Suara, efek visual, slow motion, dan respons kontrol bekerja bersama.
Performa PS5 Sangat Lancar
Saya memainkan Onimusha: Way of the Sword di PS5 menggunakan mode grafis standar.
Sejauh tiga jam bermain, performanya sangat lancar.
Saya tidak menemukan frame drop yang mengganggu.
Ada sedikit masalah pada animasi. Dalam beberapa adegan, tubuh Musashi terlihat seperti menembus karakter lain.
Bug tersebut mengingatkan saya pada adegan karakter utama yang terlihat seperti menembus hantu dalam film.
Untungnya, masalah tersebut tidak sampai mengganggu pengalaman bermain.
Kalau ada satu hal yang ingin saya lihat diperbaiki Capcom lewat patch, saya ingin interaksi karakter dibuat lebih realistis.
Misalnya, ketika Musashi berjalan mendekati NPC atau objek, seharusnya ada respons fisik yang lebih natural daripada sekadar menembus model karakter.
Difficulty yang Ramah untuk Pemain Baru
Saya memainkan game ini pada tingkat kesulitan Easy. Sesuai namanya, permainannya memang terasa mudah.
Namun saya tidak menganggap hal tersebut sebagai masalah. Ketika mati karena gagal menghindari serangan boss, saya merasa kematian tersebut memang kesalahan saya.
Game memberikan informasi yang cukup untuk membuat saya belajar membaca serangan. Saya juga tidak merasa dipaksa melakukan grinding atau menghafal pola yang terlalu rumit.
Bagi pemain yang ingin pengalaman action yang santai, tingkat kesulitan ini terasa cocok.
Progression Membuat Musashi Semakin Kuat
Semakin jauh perjalanan, Musashi mendapatkan kemampuan dan item baru.
Saya sudah mendapatkan panah dan beberapa peningkatan yang membuatnya semakin mampu menghadapi musuh dalam jumlah lebih banyak.
Perkembangan tersebut terasa natural karena mengikuti perjalanan cerita.
Saya juga belum merasa dibebani sistem equipment, crafting, atau material yang rumit.
Ini menjadi nilai plus bagi saya karena fokus utama game tetap berada pada pertarungan dan cerita.
Apa yang Membuat Saya Ingin Terus Bermain?
Setelah tiga jam, ada tiga alasan utama saya ingin menyelesaikannya.
Pertama, saya ingin mengetahui misteri Oni Gauntlet.
Kedua, saya ingin melihat perkembangan Musashi dan karakter seperti Ganryu.
Ketiga, saya ingin mengetahui senjata dan kemampuan apa lagi yang akan didapatkan. Ada rasa penasaran yang cukup kuat.
Game juga memberikan kepuasan sederhana setiap kali saya berhasil mengalahkan kelompok musuh yang jumlahnya lebih banyak.
Kekurangan yang Mulai Terlihat
Namun Way of the Sword jelas belum sempurna.
Pertama, variasi musuh terasa repetitif.
Banyak musuh mayat hidup yang memiliki pendekatan pertarungan serupa.
Kedua, animasi dan interaksi karakter belum selalu konsisten.
Beberapa model karakter masih bisa terlihat saling menembus.
Ketiga, beberapa puzzle terasa familiar.
Puzzle menggunakan panah mengingatkan saya pada game action-adventure lain.
Namun saya tidak menganggapnya sebagai masalah besar karena puzzle tersebut tetap memberikan variasi.
Apakah Onimusha: Way of the Sword Layak Dimainkan?
Setelah tiga jam, jawaban saya adalah ya.
Terutama kalau kamu mencari game action yang mudah dipahami, memiliki cerita sinematik, karakter utama yang kharismatik, serta combat yang memberikan kepuasan setiap kali combo berhasil dilakukan.
Way of the Sword juga menjadi contoh bahwa sebuah franchise lama tidak harus kembali dengan formula yang sepenuhnya sama.
Saya bahkan belum pernah memainkan seri Onimusha sebelumnya.
Namun setelah memainkan Way of the Sword, saya justru menjadi penasaran dengan game-game lamanya.
Buat saya, itu merupakan keberhasilan penting.
Game baru ini mampu berdiri sendiri sekaligus membuat pemain baru bertanya:
“Sebenarnya seperti apa Onimusha yang dulu dianggap legendaris?”
Kesimpulan: Samurai yang Mudah Dinikmati
Onimusha: Way of the Sword memberikan pengalaman menjadi samurai dengan cara yang menyenangkan.
Musashi kuat.
Pedangnya memuaskan.
Combo terasa responsif.
Boss memberikan tantangan.
Cerita menyimpan misteri yang membuat saya ingin terus bermain.
Visualnya juga sangat cocok dimainkan di layar besar.
Memang ada beberapa kekurangan seperti variasi musuh yang mulai repetitif dan animasi yang belum selalu konsisten. Namun setelah tiga jam, masalah tersebut belum cukup besar untuk menghilangkan kesenangan bermain.
Game ini juga bukan pilihan untuk pemain yang mencari open-world luas atau pengalaman Soulslike yang sangat menantang.
Namun bagi penggemar hack-and-slash dan game story-driven seperti God of War, Onimusha: Way of the Sword punya daya tarik yang kuat.
Skor sementara: 8/10.
Angka tersebut masih bisa berubah setelah saya menyelesaikan seluruh permainan. Untuk saat ini, Way of the Sword sudah berhasil melakukan satu hal penting: membuat saya yang awalnya tidak memiliki pengalaman dengan Onimusha merasa penasaran dengan masa lalu franchise ini sekaligus ingin melihat bagaimana perjalanan Musashi berakhir.
Untuk sebuah game yang kembali setelah dua dekade, itu adalah awal yang sangat bagus.
Nantikan informasi-informasi menarik lainnya dan jangan lupa untuk ikuti Facebook dan Instagram Dunia Games ya. Kamu juga bisa dapatkan voucher game untuk Mobile Legends, Free Fire, Call of Duty Mobile dan banyak game lainnya dengan harga menarik hanya di Top-up Dunia Games.
