Wawancara Virtuos TGS 2026: Cerita Balik Layar "Pendukung Kasat Mata" Game Jepang
- Sebagai studio co-development global beranggota sekitar 4.000 orang, Virtuos memanfaatkan studio di Tokyo sejak 2009 sebagai jembatan komunikasi budaya untuk menggarap waralaba besar Jepang seperti Final Fantasy, NieR, dan Metal Gear.
- Salah satu pencapaian teknis Virtuos adalah melakukan porting game NieR: Automata The End of YoRHa Edition ke Nintendo Switch hingga bisa berjalan stabil di 1080p 30 FPS, mengusung prinsip “glocalization”.
- Virtuos menegaskan pentingnya menjaga keaslian IP Jepang sebagai "warisan budaya" tanpa mengubahnya demi pasar Barat.
- Mufizal menilai tantangan utama studio Jepang saat ini adalah strategi platform; IP dengan potensi sukses global terbesar adalah yang paling mudah diakses melalui fitur cross-platform dan cross-play, sembari berpesan agar para gamer menghargai para pengembang di balik layar.
- Ingin beli voucher Google Play? Yuk top up Google Play di Dunia Games agar akun tetap aman dan transaksi lebih nyaman.
Hari pertama Business Day Tokyo Game Show 2026 di Makuhari Messe terasa beda dari tahun-tahun sebelumnya. Suasana di area B2B lebih tenang dibanding area publik yang biasanya ramai, tapi di situ justru banyak terjadi percakapan yang lebih mendalam. Tim Dunia Games datang khusus untuk bertemu beberapa studio, dan salah satu yang sudah dijanjikan sejak sebelum acara adalah Virtuos.
Kami sempat duduk sebentar dengan Mufizal Mokhtar, Studio Head Virtuos dari Kuala Lumpur, Malaysia. Mantan art director di hampir semua judul Assassin’s Creed yang sudah menggeluti industri ini hampir 30 tahun lamanya, sekarang memimpin studio co-development di Malaysia yang menjadi bagian dari grup Virtuos yang lebih besar. Mereka punya sekitar 4.000 staf di berbagai studio, termasuk di Tokyo, yang membantu komunikasi dengan klien Jepang.
Wawancara dengan Virtuos di Tokyo Game Show 2026
17 Tahun Mengerjakan Game-game Jepang di Balik Layar
Banyak orang mungkin sudah dengar nama Virtuos lewat game yang mereka bantu kerjakan seperti Metal Gear Solid Delta: Snake Eater, tapi jarang tahu detail di baliknya. Mufizal sendiri bilang kalau proses pengembangan game itu seperti sulap. Pemain cuma melihat hasil akhirnya yang asik dimainkan. Tapi kalau mereka tahu triknya, akan sedikit hilang “keajaibannya”. Meski begitu, dia tetap bersedia membuka sebagian dari trik sulap tersebut.
Salah satu contohnya adalah port NieR: Automata The End of YoRHa Edition dari PlayStation 4 ke Nintendo Switch yang ditangani Studio Virtuos di Chengdu, Tiongkok. Tantangan yang mereka hadapi sangatlah jelas: bagaimana membawa game dengan visual yang kaya dan “demanding” ke hardware yang lebih terbatas. Mereka harus mengatur ulang kode, shader, dan aset supaya bisa berjalan stabil di sebuah handheld dalam 1080p 30 FPS. Bukan pekerjaan mudah, dan semuanya harus dilakukan dengan kerja sama langsung pada klien supaya tetap sesuai visi produk.
Virtuos juga sudah lama bergaul dengan developer Jepang. Sejak 2009, hampir 17 tahun mereka terlibat di judul-judul populer seperti Final Fantasy, NieR, dan Metal Gear. Kendala terbesar dalam proyek semacam itu? Komunikasi. Mufizal bilang, setiap game punya tantangannya sendiri, tapi komunikasi yang jelas selalu jadi kunci. Karena itu mereka membuka studio lokal di Tokyo yang digunakan sebagai jembatan. Semua kerja sama dengan klien Jepang, yang melibatkan ribuan orang di jaringan Virtuos, harus melewati studio Tokyo terlebih dahulu. Mereka memahami nuance atau detail-detail kecil akan budaya setempat, dan itu merupakan aspek yang penting banget agar proses komunikasi berjalan lancar.
Konsep lintas negara yang sering mereka usung adalah “glocalization”. Tim lokal berada dekat dengan klien, tetapi punya akses ke talenta global. Contohnya jelasnya adalah Dune: Awakening yang dikerjakan bersama Funcom. Awalnya, mereka hanya bertindak sebagai support art production. Namun, karena bisa scale dengan cepat, akhirnya posisi pun berubah menjadi co-development secara penuh.
Penyesuaian skala ini penting; Virtuos bisa menjadi “kecil” atau “besar”, naik “cepat” atau “turun” lagi. Bahkan proyek-proyek yang mereka tangani bisa selesai tanpa meninggalkan beban jangka panjang bagi pihak klien.
Dapatkan Bonus Top Up berupa voucher GoPay 10K, voucher DG Rings 1000, DG POIN 1K, atau DG POIN 500 secara acak (dalam bentuk Token) setiap pembelian akumulasi Rp100.000 menggunakan GoPay. Jangan lupa untuk cek Token kamu sekarang di sini!
Alasan Mengapa Game Jepang Selalu Terasa Unik
Menurut Mufizal pribadi, aspek yang membuat game Jepang berbeda dari game-game lain adalah rasa hormat terhadap IP-nya yang bahkan sering dianggap sebagai warisan budaya. Pac-Man harus tetap terlihat seperti Pac-Man, Mario harus seperti Mario. Mereka enggak mau IP-nya diubah total supaya lebih “kebarat-baratan”. Justru yang diinginkan adalah IP murni Jepang yang bisa dinikmati di mana saja, termasuk di Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Vietnam, atau Thailand.
Adaptasi dan lokalisasi tetap ada, tapi diminimalisir sebisa mungkin. Kini, yang lebih sering diminta adalah dukungan multi-platform dan cross-play, supaya pemain bisa main bareng teman di Switch dan PlayStation sekaligus. Maka dari itu, jika ditanya IP Jepang apa yang paling berpotensi sukses secara global, maka jawabannya sederhana: yang paling mudah diakses. Game-game dengan fitur cross-platform dan cross-play. Semakin mudah orang masuk, semakin besar peluangnya.
Namun di sisi lain, demand tersebut membuat tantangan industri game Jepang menjadi sedikit lebih rumit. Di satu sisi, pemain sekarang maunya bisa main game favorit mereka di mana saja. Di sisi lain, penerbit dan developer harus menentukan strategi platform, apakah sebaiknya rilis multi-platform atau eksklusif di satu platform? Akhirnya, banyak klien yang memilih rilis di banyak tempat, namun hal itu juga membutuhkan pekerjaan teknis yang cukup berat agar satu judul game bisa jalan lancar di PlayStation, Switch, maupun mobile. Sehingga tantangan terbesar industri game Jepang saat ini, menurutnya, bukanlah permasalahan talenta; Virtuos sendiri memiliki banyak anggota. Melainkan strategi platform.
Soal masa depan, Mufizal melihat co-development semakin penting bagi studio Jepang. Capcom merupakan salah satu contoh studio besar yang mengimplementasikan sistem ini dengan baik. Mereka bisa memusatkan sumber daya internal untuk IP baru, sementara katalog IP lama bisa dikerjakan oleh partner eksternal. Kontras dengan kasus-kasus yang terjadi di industri Barat selama beberapa tahun terakhir, di Jepang, PHK besar jarang terjadi karena aturan ketenagakerjaan – tapi proses hiring atau perekrutan diperlambat.
Maka dari itu, kerja sama dengan pihak eksternal dianggap lebih aman dan sustainable. Partner seperti Virtuos bisa scale up, scale down, atau menyelesaikan proyek tanpa risiko harus mempekerjakan orang dalam jumlah besar.
Di akhir percakapan dengan tim Dunia Games, Mufizal mengaku sempat membagikan pesan kepada para gamer. Memang, industri game masih tumbuh kuat menuju angka 200 miliar Dolar. Konten-konten game pun kini jauh lebih mudah diakses dengan platform baru terus bermunculan. Pesan Mufizal pun sederhana: mainkan gamenya, hargai developer-nya, karena mereka juga menghargai pemain. Mereka cuma ingin bikin game yang memang ingin dimainkan orang.
Percakapan kami di area B2B Tokyo Game Show 2026 memang sangat singkat, tapi cukup memberikan gambaran yang jarang muncul di permukaan. Virtuos bukan studio yang selalu di depan layar, tapi peran mereka di belakang layar cukup besar. Terutama saat membawa IP Jepang ke audiens yang lebih luas tanpa menghilangkan “jiwanya”.
FAQ Virtuos dan Wawancara di TGS 2026
Apa itu Virtuos?
Virtuos adalah studio co-development dan art production global yang berbasis di Singapura, dengan banyak studio di Asia, Eropa, dan Amerika Utara. Mereka bantu studio besar mengerjakan bagian tertentu dari game, mulai dari porting, art, engineering, sampai full co-development.
Siapa yang Diwawancarai Dunia Games di TGS 2026?
Mufizal Mokhtar, Studio Head Virtuos Kuala Lumpur. Dia sudah hampir 30 tahun di industri dan pernah jadi art director di hampir semua judul Assassin’s Creed.
Virtuos Pernah Kerjakan Game Apa Saja?
Beberapa yang pernah disebut termasuk port NieR: Automata ke Switch, keterlibatan di judul Final Fantasy, Metal Gear, serta dalam co-development Dune: Awakening bersama Funcom. Mereka juga punya jejak tak nampak di banyak AAA lain, meski nama studionya tidak selalu dicantumkan di kredit utama.
Kenapa Virtuos Punya Studio di Tokyo?
Untuk memudahkan komunikasi dengan klien Jepang. Studio Tokyo menjadi penghubung antara developer Jepang dan jaringan global Virtuos yang jumlahnya sekitar 4.000 orang.
Apa yang Dimaksud Glocalization Menurut Virtuos?
Tim lokal yang dekat dengan klien, tapi punya akses penuh ke talent dan resource global. Jadi bisa kecil atau besar sesuai kebutuhan proyek.
Apakah Co-development Semakin Penting bagi Studio Jepang?
Menurut Mufizal, ya. Studio Jepang bisa fokus dalam pengembangan IP baru secara internal, sementara katalog IP lama atau proyek tambahan dikerjakan partner eksternal yang lebih fleksibel dalam scaling.
Apa Tantangan Terbesar Kerja Sama dengan Developer Jepang?
Komunikasi dan pemahaman nuansa budaya. Karena itu, pengalaman sejak 2009 dan adanya studio di Tokyo sangat membantu.
IP Jepang Seperti Apa yang Menurut Virtuos Berpotensi Besar di Pasar Global?
Yang mudah diakses, terutama yang mendukung cross-platform dan cross-play. Semakin banyak orang bisa memainkan game-nya tanpa hambatan platform, semakin besar potensinya.
Apakah Virtuos Mengubah IP Jepang supaya lebih “Barat”?
Tidak. Mereka lebih sering menjaga IP tetap murni sesuai aslinya, karena IP Jepang dianggap sebagai warisan budaya. Adaptasi ada, tapi minimal.
Pesan Mufizal Buat Para Gamer?
Industri game masih tumbuh. Mainkan gamenya, hargai orang-orang di balik layar, karena mereka juga menghargai pemain. Tujuan utamanya tetap menyajikan game yang memang ingin dimainkan.
Nantikan informasi-informasi menarik lainnya dan jangan lupa untuk ikuti Facebook, Instagram, TikTok, dan YouTube Dunia Games. Kamu juga bisa dapatkan voucher game untuk Mobile Legends, Free Fire, Call of Duty Mobile dan banyak game lainnya dengan harga menarik hanya di Top-up Dunia Games.
