Kelemahan Bigetron Terkuak! Kalah dari EVOS dan Alter Ego
- Bigetron by Vitality kehilangan momentum di Week 4 setelah mengalami dua kekalahan beruntun dari EVOS dan Alter Ego.
- EVOS dan Alter Ego berhasil mengeksploitasi kelemahan BTR dengan menghadirkan permainan agresif dan keputusan yang sulit diprediksi.
- BTR membutuhkan inovasi dalam membaca permainan agar tidak terlalu bergantung pada pola permainan terstruktur ketika menghadapi lawan yang bermain di luar ekspektasi.
- Dua kekalahan ini bisa menjadi pelajaran penting bagi sang juara bertahan untuk berbenah sebelum tim-tim MPL ID S18 lainnya menemukan cara yang sama untuk mengalahkan mereka.
- Ayo top up diamond MLBB kalian di Dunia Games sekarang!
Penulis: Redzi Arya Pratama
Sebuah kejutan terjadi di pekan keempat MPL ID S18. Tim yang sangat kuat di tiga pekan pertama sekaligus juara bertahan, Bigetron by Vitality, akhirnya mengalami dua kekalahan beruntun. Mereka harus mengakui keunggulan EVOS dengan skor 1-2, sebelum kembali tumbang 0-2 dari Alter Ego.
Dua kekalahan tersebut tentu menjadi alarm bagi Bigetron. Sebelumnya, BTR terlihat sebagai salah satu tim paling solid di MPL ID S18. Mereka mampu menunjukkan permainan yang disiplin, objektif, serta memiliki kemampuan membaca permainan lawan dengan sangat baik. Namun, ketika menghadapi EVOS dan Alter Ego, fondasi tersebut mendadak terlihat lebih rapuh.
Menariknya, terdapat satu kesamaan dari dua pertandingan tersebut. Baik EVOS maupun Alter Ego sama-sama mampu menghadirkan sesuatu yang tidak diduga oleh Bigetron pada momen-momen krusial. Eksploitasi Alter Ego memang terasa lebih menyakitkan karena mereka mampu menyapu bersih sang juara bertahan, tetapi akar masalahnya relatif sama.
EVOS berani mengambil keputusan yang sangat berisiko ketika situasi mengharuskannya. Salah satu contohnya terlihat dari permainan Albert yang sangat agresif. Ada pula keputusan EVOS untuk melakukan push hingga mengakhiri pertandingan pada game ketiga, meski kondisi saat itu sebenarnya menyimpan risiko besar. Namun, keberanian tersebut justru membuahkan hasil.
Alter Ego melakukan hal serupa dengan pendekatan yang berbeda. Mereka mampu menghadirkan agresi yang tidak terpikirkan sejak early game, sekaligus memiliki counter engage yang sangat tepat. BTR seolah kesulitan membaca arah permainan ketika AE keluar dari pola yang biasanya mereka hadapi. Dari sinilah kelemahan Bigetron mulai terkuak.
Kelemahan Bigetron Dieksploitasi, Butuh Inovasi

Jika melihat dua kekalahan tersebut, masalah terbesar Bigetron bukan sekadar mekanik pemain atau eksekusi team fight. Persoalannya lebih dalam: BTR terlihat kesulitan ketika pertandingan berubah menjadi situasi yang tidak terprediksi.
Bigetron sangat kuat ketika mampu memainkan pertandingan sesuai dengan struktur yang mereka inginkan. Rotasi, penguasaan objektif, kontrol map, hingga pengambilan team fight dapat berjalan dengan sangat terukur. Akan tetapi, ketika lawan melakukan sesuatu di luar ekspektasi, BTR tidak selalu memiliki respons yang cukup cepat.
EVOS menjadi contoh paling jelas. Albert tampil sangat agresif dan berani masuk ke area yang mungkin dianggap terlalu berisiko. Dalam situasi normal, keputusan tersebut bisa menjadi blunder. Namun, ketika dieksekusi dengan timing yang tepat, agresi tersebut justru membuat Bigetron kehilangan kesempatan untuk mengontrol tempo.
Puncaknya terjadi pada game ketiga. EVOS mengambil keputusan untuk terus melakukan push sampai pertandingan berakhir. Keputusan tersebut sangat berisiko karena sedikit saja kesalahan bisa membuat mereka kehilangan momentum. Namun, BTR tidak mampu menghentikannya tepat waktu.
Alter Ego kemudian memperlihatkan versi yang lebih ekstrem. Sejak early game, AE berani melakukan agresi yang tidak biasa. Mereka tidak membiarkan Bigetron mendapatkan ritme permainan yang nyaman. Setiap upaya BTR untuk merespons juga mendapatkan counter engage yang sangat on point.
Hal tersebut membuat Bigetron seperti dipaksa bermain di luar zona nyaman mereka. Ketika lawan bermain sesuai ekspektasi, BTR dapat mengontrol pertandingan. Namun, ketika lawan tiba-tiba mengubah tempo, mengambil risiko besar, atau melakukan inisiasi yang tidak lazim, BTR terlihat membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi.
Inilah pekerjaan rumah terbesar Bigetron menjelang pekan-pekan berikutnya. Mereka tidak cukup hanya menjadi tim yang disiplin dan memiliki struktur permainan kuat. BTR juga membutuhkan inovasi dalam cara membaca permainan lawan.
Mereka harus memiliki lebih banyak opsi ketika game berjalan di luar rencana. Pemain perlu lebih berani mengambil keputusan spontan, sementara coaching staff harus menyiapkan skenario menghadapi tim yang bermain sangat agresif dan unpredictable.
Dua kekalahan dari EVOS dan Alter Ego memang belum menghapus status Bigetron sebagai salah satu kandidat juara. Namun, pertandingan tersebut memberikan blueprint penting bagi calon lawan mereka.
Jika Bigetron tidak segera menemukan solusi, tim-tim lain tentu akan mencoba meniru pendekatan EVOS dan Alter Ego: membuat keputusan di luar prediksi, memaksa BTR bereaksi, lalu menghukum setiap keraguan yang muncul.
Sebaliknya, jika BTR mampu memperbaiki kelemahan tersebut, dua kekalahan ini justru bisa menjadi pelajaran berharga. Sang juara bertahan masih punya waktu untuk berbenah. Pertanyaannya sekarang adalah apakah Bigetron mampu menghadirkan inovasi sebelum lawan kembali menemukan cara baru untuk mengeksploitasi mereka.
Nantikan informasi-informasi menarik lainnya dan jangan lupa untuk ikuti Facebook, Instagram, TikTok, dan YouTube Dunia Games. Kamu juga bisa dapatkan voucher game untuk Mobile Legends, Free Fire, Call of Duty Mobile dan banyak game lainnya dengan harga menarik hanya di Top-up Dunia Games.
